Dunia Penjara Tanpa Jeruji

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 28 Juli 2025 | 05:58 WIB
Foto ilustrasi penjara - KPK setuju ide Prabowo tentang penjara khusus koruptor di tempat terpencil. (Unsplash/Saad Chaudhary) (Unsplash/Saad Chaudhary)
Foto ilustrasi penjara - KPK setuju ide Prabowo tentang penjara khusus koruptor di tempat terpencil. (Unsplash/Saad Chaudhary) (Unsplash/Saad Chaudhary)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah engkau berlari mengejar sesuatu, lalu justru dirimu yang tertangkap oleh apa yang kau kejar?

Apakah dunia ini tempat perhentian, atau sekadar persinggahan semu yang sering kita anggap abadi? Mengapa manusia yang mengejar dunia justru sering kehilangan dirinya sendiri, dan tak pernah menemukan makna sejatinya?

Tidakkah kau merasa, semakin dikejar harta, kuasa, dan kemegahan, jiwa justru semakin kosong dan kehilangan arah? Apakah dunia ini sedang kau genggam, atau justru engkaulah yang digenggam olehnya?

Renungkanlah. Yang tampak kita kendalikan, sering kali justru yang mengendalikan kita. Yang kita cintai, bisa jadi sedang menawan kita dalam jeruji fatamorgana.

Dalam hening malam yang tak selalu sunyi, ada jiwa yang bertanya lirih:

"Mengapa aku merasa lelah, padahal sedang berlari menuju apa yang kusebut sebagai kebahagiaan?"

Pernahkah kau merasakannya? Berlari cepat, mengejar mimpi, menggenggam ambisi… tapi di ujung sana, justru terasa semakin jauh dari dirimu sendiri.

Kita menyangka sedang mengejar dunia, padahal dunia yang menggiring kita—perlahan, halus, penuh ilusi. Kita menyambutnya dengan harap, tapi ia memeluk kita dengan racun. Dunia membelenggu dengan rantai tak kasat mata: keserakahan, gengsi, dan kepalsuan.

Dunia itu seperti bayangan. Semakin dikejar, semakin menjauh. Namun saat kita berpaling darinya demi Allah, ia justru datang dengan tunduk.

Sering kali kita tak menyadari bahwa yang kita kejar bukanlah kebutuhan, melainkan keserakahan. Yang kita cintai bukan kebenaran, tapi kemegahan. Kita menyebutnya perjuangan, padahal pelarian. Kita sebut cita-cita, padahal jebakan.

Maka, bertanyalah dengan jujur: Apakah arah langkah ini menuju kebahagiaan abadi atau sekadar mengejar fatamorgana yang melupakan akhirat?

Dunia Manis di Permukaan, Namun Getir di Dalam

Film klasik "Kejar Daku Kau Kutangkap" dulu menggambarkan cinta yang penuh perjuangan. Tapi kali ini, cinta yang dibahas bukanlah antara dua insan, melainkan cinta manusia pada dunia—cinta yang membutakan, menyesatkan, dan menjerat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB
X