Lebih jauh bahkan terasa bagaimana berbagai institusi atau organisasi internasional, baik di bidang ekonomi seperti Bank Dunia dan IMF, di bidang pengadilan seperti ICJ, bahkan organisasi induk negara-negara dunia (PBB dengan semua cabangnya) hanya menjadi instrument pendudukan dan dominasi mereka.
Contoh terdekat adalah bagaimana akhir-akhir ini Israel menginjak-injak Kehormatan PBB dan ICJ karena dukungan Amerika Serikat dan sekutunya.
Perang kepada agama dan moralitàs
Selain karakter double standard dan kemunafikan Barat di atas, juga hal yang menggelitik dan menyakitkan adalah kenyataan bahwa Barat sekarang ini sedang melancarkan perang yang dahsyat terjadi agama dan nilai-nilai moralitas.
Agama dan moralitas hanya akan diterima jika cenderung sujud ruku’ kepada tatanan nilai yang mereka bangun. Ketika agama dan moralitas itu konsisten dengan nilai-nilai moralitas universal manusia akan dillabel dengan berbagai label negatif.
Termasuk di antaranya label ekstremisme dan/atau terbelakang (backward) dan paradoksikal dengan apa yang disebut modernitas.
Salah satu negara yang sejak lama dikenal dengan permusuhan dan peperangan kepada agama dan nilai-nilai moralitas adalah Prancis. Kita ketahui bahwa sejak lama Prancis memerangi semua simbol-simbol agama, terkhusus lagi Islam, di arena publik.
Seolah agama menjadi momok yang menakutkan dan penghalang bagi kemajuan dunianya. Selain dengan kebijakkan publiknya, ada semacam persepsi publik yang sengaja dibangun jika agama tidak lagi sejalan bahkan menjadi musuh bagi apa yang disebut dunia modern dan kemajuan.
Walaupun dalam prakteknya pada sisi ini juga terjadi prilaku double standard dan kemunafikan yang nyata. Di Prancis jilbab misalnya begitu dilihat menakutkan dan dianggap penghalang kemajuan dan peradaban.
Tapi Prancis bangga sebagai negara dengan agama mayoritas Katolik. Simbol-simbol Katolisisme biasa saja dan tidak pernah dipersepsikan sebagai hal yang paradoksikal dengan kemajuan dan modernitas.
Para biarawati bebas saja memakai pakaian keagamaan termasuk penutup rambut. Tapi ketika wanita-wanita Muslimah memakai hijab Prancis perlu mengkhawatirkannya.
Peperangan kepada agama dan moralitas itu kembali mencuak dengan nyata pada acara Olympiade kali ini. Bagaimana dalam acara pembukaan ada sebuah pertontonan yang sangat memalukan sekaligus merendahkan dan melecehkan agama.
Walaupun secara khusus agama Katolik/Kristen dalam hal ini, Islam juga termasuk yang tergelitik dan pasti merasakan ketersinggungan itu.
Salah satu acara hiburan di acara pembukaan Olimpiade itu menampilkan sekelompok gay (homo/lesbian) membawakan lagu-lagu dengan menirukan peristiwa the Last Supper atau perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridnya (dalam keyakinan Kristiani).
Hal ini menjadi sangat kontroversial dan menjadi perdebatan besar di kalangan agama-agama. Agama-agama Samawi khususnya Kristiani dan Islam dalam hal ini merasa dilecehkan karena Isa dan murid-muridnya (hawwariyun) yang kita muliakan ditampilkan dengan tampilan homoseksual.
Artikel Terkait
Warning! Jangan Makan Pisang Bersamaan dengan Ini...
Akselerasi Kemajuan Perguruan Tinggi Jepang Memperkuat Mutu dan Daya Saing Akademik
Upacara Adat Serentaun
Potret Kolam Renang di SMANDA Cianjur, Bikin Seger!
Harapan untuk Lalu Muhammad Zohri di Olimpiade Paris 2024
Pemain Timnas di Berbagai Posisi
Diduga Gegara Politik, Wakil Ketua DPRD Cianjur Ditolak sebagai Pemateri dalam Acara Lokakarya
Di-NU-NU-kan
Bikin Bangga, Denny JA Terima Penghargaan International: Lifetime Achievement Award 2024
Catatan Apik Indra Sjafri, Pelatih Timnas Indonesia Kembali Harumkan Indonesia