Olympiade, Kemunafikan Barat dan Perang terhadap Agama

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 31 Juli 2024 | 10:00 WIB

Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi

Hari-hari ini hajatan oleh raga dunia dalam segala bidangnya sedang berlangsung di Prancis. Tentu saja mata manusia dari berbagai penjuru dunia menatapnya. Dan sudah pasti perhelatan itu menjadi perhelatan akbar yang ditunggu-tunggu banyak orang.

Kali ini saya tidak membahas tentang olah raga dan/atau kontingen dan perolehan medalinnegara-negara peserta. Tapi lebih kepada aspek-aspek lain yang terkait dengannya.

Termasuk aspek politik, ekonomi, sosial budaya bahkan agama. Karena dalam dunai yang sedang mengalami berbagai ujian saat ini segalanya menjadi sangat sensitif.

Salah satu hal yang disoroti jauh sebelum acara ini berlangsung adalah kemunafikan Prancis dan panitia pelaksana dalam meloloskan atau sebaliknya melarang negara-negara untuk berpartisipasi di kompetisi olah raga dunia itu.

Rusia misalnya, sejak lama dijatuhkan vonis melarangnya menjadi peserta karena dianggap melakukan pendudukan dan pembunuhan di Ukraine.

Tapi sebaliknya Israel yang menjajah Palestina sejak 1948 dan telah melakukan pembantaian dan kekerasan sejak lama kepada bangsa Palestina diperbolehkan menjadi peserta yang terhormat.

Bagi saya semua itu tidak mengejutkan sama sekali. Double standard dan kemunafikan dunia Barat bukan hal baru. Selama ini kemunafikan itu telah menjadi tontonan terbuka dunia yang memalukan.

Berbagai prilaku mereka pertontonkan dengan membuka borok-birok yang menjijikkan seperti ini. Hampir dalam segala aspek kehidupan manusia.

Prancis dan dunia Barat secara umum mempromosikan diri sebagai pejuang kebebasan nilai-nilai Universal (Freedom), HAM (human rights), Kemuliaan manusia (Human Dignity), kesetaraan (equality) dan keadilan untuk semua (justice for all).

Tapi kenyataannya kita tahu Barat memiliki mental kolonial yang tinggi. Keinginan menguasasi dan mendominasi dunia itu sejak lama dan selalu ada. Bahkan sepak terjangnya dalam sejarah memperlihatkan itu di berbagai belahan dunia, baik di Asia, Afrika maupun di Karibia dan Amerika Latin.

Sejarah panjang prilaku paradoksikal mereka dengan nilai-nilai Universal tadi (Freedom, human rights, justice, etc) menjadi hal yang memuakkan bagi dunia.

Anehnya mereka kebal muka dan sebaliknya selalu menampakkan diri sebagai pejuang nilai-nilai itu. Sehingga merekalah yang seolah menjadi hakim “baik-buruk”nya suatu nilai.

Amerika misalnya memiliki penilaian kebebasan beragama (religious freedom) di semua negara-negara dunia, kecuali di Amerika sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X