Akselerasi Kemajuan Perguruan Tinggi Jepang Memperkuat Mutu dan Daya Saing Akademik

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 29 Juli 2024 | 10:00 WIB
Kuliah di universitas Jepang. Foto/Ist
Kuliah di universitas Jepang. Foto/Ist


Oleh: Hanief Saha Ghafur (Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia)

I. PENDAHULUAN
Saya dapat kesempatan berkunjung ke Jepang selama 9 hari, Sabtu 13 - 22 Juli. Kesempatan berkunjung ke beberapa perguruan tinggi Jepang terbaik. Baik publik (PTN) maupun swasta (PTS) terpilih.

Pilihan saya untuk berkunjung jatuh pada 3 perguruan tinggi, yaitu Universitas Tokyo, Universitas Tsukuba, & Universitas Musashino. Ada beberapa universitas yg saya sebut sebagai pembanding, seperti Universitas Kyoto, Universitas Nagoya, dan Universitas Shokutoku.

Hal ini penting untuk melihat bagaimana universitas menggerakkan mutu untuk kemajuan Iptek. Memperkuat kompetensi dan daya saing ekonomi dan industri agar bisa terus tumbuh. Khususnya dalam menciptakan kreasi dan innovasi baru melalui perguruan tinggi.

Saya ke Jepang bersama isteri menginap 8 malam di Hotel Grand Fresa. Satu blok terpisah jalan sempit dengan Universitas Musashino di kawasan Ariake, Tokyo. Semalam kami bermalam di rumah WNI yg beristerikan orang Jepang.

Bersama mereka kami menikmati kebudayaan Jepang. Sekalian saya membaca dan mengumpulkan data tentang kebudayaan dan sistem pendidikan. Bersama mereka saya berkunjung ke beberapa kota di provinsi Ibaraki.

Kami juga berkunjung ke Global Farm of Ibaraki, Universitas Tsukuba, dan saya sempatkan mampir ke kantor PCI-NU dan Pesantren NU di Ibaraki. Di Universitas Tsukuba kami didampingi Mas Ari Nugraha dosen FIB-UI yg sedang menyelesaikan Program Doktor.

Menurut Mas Ari ada sekitar 30-an mahasiswa Indonesia di Universitas Tsukuba. Selain di Tsukuba ada banyak mahasiswa dibeberapa universitas di sekitar Ibaraki. Baik mereka yg sedang S2, S3, dan postdoctoral research. Kedua universitas negeri ini mendeklarasikan dirinya sebagai universitas riset. Bagaimana mereka memperkuat mutu ada suatu hal yg menarik.

II. UNIVERSITY OF TOKYO atau dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Tokyo Daigaku berdiri tahun 1877. Berdiri dari zaman restorasi Meiji, di mana kekaisaran saat itu ingin mendirikan perguruan tinggi dengan nama Teikoku Daigaku (Universitas Kekaisaran/ Imperial University) dan berubah lagi menjadi Tokyo Imperial University (Tokyo Teikoku Daigaku), sebelum kemudian menjadi universitas seperti saat ini.

Ada 5 lokasi kampus, yaitu Hongo dan Komaba yg ada di tengah kota. Sedang kampus Kashiwa, Shirokane, dan Nakano ada di pinggiran kota. Kunjungan ke kampus Hongo sangat menarik, karena penuh dengan gedung-gedung tua. Saya senang sekali mengambil gambar gedung tua yg tetap dipelihara dengan baik sebagai Ikon di universitas ini.

Dalam mengembangkan universitas riset. Suatu hal yg menarik dari Universitas Tokyo adalah intake, proporsi, dan distribusi mahasiswa yg mencerminkan level ranking terbaik dunia & ikon kemodernan masyarakat Jepang.

Dari tingkat keketatan penerimaan mahasiswa baru, Universitas Tokyo adalah terketat dari seluruh perguruan tinggi yg ada di Jepang. Termasuk terketat dibanding pesaingnya yaitu Universitas Kyoto & Universitas Nagoya. Dari jumlah 28.133 lebih total mahasiswa di 2023, jumlah mahasiswa pascasarjana (ada 14.258) lebih besar ketimbang jumlah program sarjana (ada 13.974).

Universitas ini memposisikan diri sebagai "graduate university dengan pembelajaran berbasis riset dan riset berbasis pembelajaran". Keunggulan terkuat ada pada bidang sains dan teknologi. Sedang kekuatan di bidang ilmu sosial & humaniora ada di bidang ilmu hukum & ilmu bahasa dan kesusasteraan.

Ranking terbaik versi QS WUR 2025, Universitas Tokyo ada di level 32 dunia. Di universitas ini ada 6.311 staf akademik pengajar. Keunggulan terkuat ada di bidang sains dan teknologi. Dalam bidang tersebut di tahun 2024, ada 18 dosen yg meraih hadiah Nobel dan ada 17 Perdana Menteri alumni dari universitas ini.

Bandingkan juga dengan Universitas Kyoto yg punya 19 peraih Nobel dan ada 5 perdana menteri. Sedang pesaing lainnya adalah Universitas Nagoya dengan 7 peraih Nobel. Bandingkan dengan Indonesia yg berpenduduk 279 juta belum pernah ada satupun anak bangsa ini meraih hadiah Nobel.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X