Dialog Antar Agama dan Gerakan Zionisme

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 20 Juli 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi agama. (Foto: freepik.com)
Ilustrasi agama. (Foto: freepik.com)

Oleh: Shamsi Ali Al-Kajangi

Ketika saya mendarat pertama kali di Amerika, saya tidak mengenal dan tidak paham tentang apa itu interfaith dialogue atau dialog antar (pemeluk) agama.

Hanya secara alami menjadi tuntutan dakwah, di mana realita sebagai kami sebagai minoritas, mengharuskan adanya aktifitas-aktifitas “outreach” atau pendekatan keluar dengan tetangga-tetangga. Saat itu umumnya kepada komunitas Kristiani di sekitaran Masjid.

Namun peristiwa 9/11 di tahun 2001 menjadikan segalanya berubah. Upaya pendekatan keluar dengan tetangga-tetangga tidak lagi hal biasa dan bersifat alami.

Tapi menjadi luar biasa (extraordinary) dan memerlukan wawasan dan perencanaan yang inovatif. Islam dan umat saat itu dihadapkan kepada sebuah realita yang juga extraordinary (tidak biasa) dan cukup mengkhawatirkan.

Pada saat yang sama saya mulai tersadarkan akan makna “keragaman” masyarakat (diverse society) di Amerika. Di samping kiri dan kanan, depan belakang, dan dari semua penjuru ada tetangga-tetangga dengan afiliasi yang berbeda-beda. Karenanya kesadaran akan “the otherness” (tentang orang lain) semakin terbuka sekaligus menggugah cara pandang lama saya.

Realita itu menyadarkan bahwa kehidupan ini bukan hanya milik kita dan tentang kita. Tapi ada orang lain (the others) dengan segala mindset dan karakternya. Salah satunya adalah tentang agama dan keyakinan mereka sendiri.

Hal di atas semakin mendorong saya untuk “revisiting” (kembali mendalami) berbagai ayat Al-Quran maupun hadits-hadits yang terkait dengan “the other” (orang lain), khususnya dua Komunitas agama yang mengaku sebagai pelanjut keimanan Ibrahim (Abrahamic faith); Yahudi dan Kristen.

Saya menemukan begitu banyak ayat maupun hadits, bahkan sejarah panjang interaksi Umat dengan mereka. Interaksi panjang itu sejak zaman Rasulullah, Khulafa Rasyidun, hingga ke zaman ekspansi Islam ke dunia Barat khususnya.

Sejarah Islam di Madinah tidak dapat dilepaskan dengan interaksi Rasulullah dengan komunitas Yahudi secara dominan. Dan sejarah Islam di Spanyol tidak bisa dilepaskan dari interaksi umat dengan komunitas Kristen secara dominan.

Artinya kedua Komunitas itu dalam sejarahnya masing-masing memiliki sisi negatif atau positif yang dominan sesuai keadaan dan konteksnya. Sehingga faktanya keduanya susah dipisahkan dan dibanding-bandingkan.

Ayat-ayat yang misalnya menguatkan "enimositas" (kebencian dan permusuhan) kaum Yahudi kepada umat ini juga tdak terlepas dari konteks dan berbagai hal yang terkait.

Saat ini misalnya yang dominan di depan mata sebagai musuh adalah Yahudi. Hal itu karena konteks kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina yang melampaui semua batas-batas pertimbangan kemanusiaan dan akal sehat.

Tapi jangan lupa ada masa dengan konteks lain di mana umat Kristiani justeru yang lebih dominan memusuhi Islam. Ada kalanya umat Hindu menjadi sangat jahat.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

HTI Reborn

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X