daerah

Unpad Soroti Ketertinggalan Tata Kelola Digital Indonesia dari Malaysia dan Korea Selatan

Senin, 8 Juni 2026 | 17:20 WIB
Kepala Departemen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran, Prof Dr H Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H,. S.A.P,. M. Hum (Ist)

Berkaca dari perbandingan internasional itu, Nandang menaruh harapan besar pada hasil kajian ilmiah yang dipaparkan Neli Yuliawati. Walau pengambilan sampel dan lokus penelitiannya bertempat di Kabupaten Cianjur, formulasi teoretis serta temuan lapangannya dinilai sangat relevan untuk diadopsi sebagai rujukan kebijakan berskala nasional.

“Penelitian ini mudah-mudahan menjadi semacam chemistry bagi perkembangan konvergensi teknologi di Indonesia. Harapannya, Indonesia dapat terus meningkatkan kualitas governansi digitalnya sehingga mampu memberikan pelayanan publik yang semakin efektif dan partisipatif,” ungkapnya.

Lebih dalam, Nandang menguraikan karakteristik mendasar yang memisahkan metodologi ilmu pemerintahan dengan cabang ilmu sosial atau manajemen lainnya. Fokus utama disiplin ilmu ini tidak melulu berkutat pada efisiensi prosedural institusi, melainkan pada dinamika relasional antara pemegang otoritas dan warga negara.

Keberhasilan implementasi suatu produk kebijakan, menurut dia, sepenuhnya ditentukan oleh sehat tidaknya jalinan komunikasi makro tersebut. Atas dasar itu, riset kependudukan ini dipandang strategis lantaran memotret dualisme penting, yaitu performa teknologi pelayan publik sekaligus indeks keterlibatan masyarakat di dalamnya.

“Ilmu pemerintahan memiliki ciri khas adanya relasi antara yang memerintah dan yang diperintah. Jadi bukan hanya berbicara soal teknologi atau manajemen organisasi semata, tetapi bagaimana teknologi itu mampu membangun interaksi dan kepercayaan antara pemerintah dengan masyarakat,” jelasnya.

Pertemuan ilmiah tersebut turut mempertemukan beragam elemen pemangku kepentingan di wilayah Cianjur. Mulai dari jajaran birokrat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur, perwakilan akademisi lintas disiplin, hingga tokoh masyarakat hadir untuk memberikan perspektif yang berimbang.

Keterlibatan multipihak ini dipandang sebagai instrumen penting untuk memetakan realitas di lapangan secara objektif. Dengan demikian, formulasi sistem administrasi kependudukan yang dirancang ke depan benar-benar berakar pada kebutuhan riil warga lokal.

Nandang juga membeberkan bahwa variabel utama yang memperkuat bobot akademis dari disertasi tersebut terletak pada eksplorasi nilai demokrasi partisipatif. Poin pelibatan masyarakat dalam ekosistem digital inilah yang diidentifikasi sebagai unsur kebaruan ilmiah atau novelty.

Sebuah penelitian di jenjang strata tiga, menurut Nandang, memikul tanggung jawab moral untuk menyuguhkan tesis orisinal yang berdaya sumbat pada perkembangan ilmu pengetahuan serta praktik riil di pemerintahan. Oleh karena itu, arah riset ini dikawal ketat demi melahirkan model pelayanan publik yang tidak hanya ramah teknologi, tetapi juga inklusif.

FGD yang berlangsung dinamis ini diposisikan sebagai pilar pengumpulan data primer. Berbagai masukan, kritik, dan catatan dari para peserta diharapkan mampu menyusun potret utuh mengenai peta jalan sekaligus hambatan struktural dalam penerapan digitalisasi birokrasi di Cianjur.

Pada fase hilir, output riset ini ditargetkan mampu memicu dua manfaat sekaligus. Selain memperkaya khazanah teoretis ilmu pemerintahan, rekomendasi yang dihasilkan disiapkan menjadi naskah kebijakan strategis bagi pengambil keputusan demi mewujudkan pelayanan yang modern dan berkeadilan.

Laju perkembangan teknologi informasi yang eksponensial memaksa jajaran aparatur daerah untuk terus menelurkan terobosan baru. Kendati demikian, mesin dan aplikasi secanggih apa pun tidak akan berdampak masif tanpa diiringi keseriusan birokrasi dalam merajut kepercayaan publik melalui tata kelola yang transparan.

FGD di Kabupaten Cianjur ini merefleksikan urgensi komitmen kolektif dalam membenahi sektor pelayanan administrasi kependudukan. Langkah transformatif tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif, responsif, serta berorientasi penuh pada kemaslahatan masyarakat luas.

Halaman:

Tags

Terkini