JOURNALNUSANTARA.COM, SUMEDANG – Polemik penutupan mendadak Pondok Pesantren Kampung Quran di Desa Tegalmanggung tidak hanya soal konflik internal pengelola. Di balik keputusan tersebut, muncul dugaan kasus sensitif yang disebut tidak pernah diproses secara hukum, namun berdampak luas hingga menghentikan aktivitas pendidikan puluhan santri.
Kasus ini kini berkembang menjadi persoalan serius, karena bukan hanya menyangkut tata kelola lembaga, tetapi juga menyentuh aspek perlindungan anak dan keberlangsungan pendidikan.
Dugaan Kasus Lama yang Tak Pernah Tuntas
Informasi yang dihimpun dari orangtua santri menyebutkan, sekitar 1,5 tahun lalu sempat muncul dugaan kasus pelecehan seksual di lingkungan pesantren. Namun, kasus tersebut tidak pernah berlanjut ke proses hukum.
Kapolsek Cimanggung, Kompol Aan Supriatna, S.AP, disebut membenarkan bahwa informasi dugaan tersebut memang ada, tetapi tidak pernah dilaporkan secara resmi ke kepolisian.
Di sisi lain, berdasarkan keterangan kepala desa, sempat terjadi kesepakatan antara warga dan pihak pesantren agar pimpinan lama yang dikaitkan dengan dugaan kasus tersebut tidak kembali ke lingkungan Kampung Quran.
Namun, seiring beredarnya kabar bahwa pimpinan lama akan kembali, situasi internal pesantren mulai memanas.
Efek Domino: Guru Mundur, Pesantren Ditutup
Ketegangan internal tersebut berdampak langsung pada aktivitas pendidikan. Sejumlah pengajar disebut memilih mengundurkan diri karena merasa tidak nyaman dengan situasi yang berkembang.
Dalam rapat wali santri pada Minggu, 12 April 2026, salah satu pengajar, Ustaz Lukman, secara terbuka menyatakan mundur karena tidak kuat menghadapi intervensi pihak tertentu.
Situasi itu kemudian berujung pada keputusan pimpinan sementara pesantren, yang dikenal sebagai “Abah”, untuk menghentikan operasional pesantren tanpa kepastian waktu.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari orangtua santri.
Santri Jadi Korban Utama
Bagi orangtua, persoalan ini tidak lagi sekadar konflik internal, tetapi telah berdampak langsung pada hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan.