Sinergi Pemerintah, DPR, dan Garda HAM Kawal P5HAM di Desa Bojong

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 12 Oktober 2025 | 00:37 WIB

“Gerakan HAM tidak boleh berhenti di ruang seminar.” Kalimat itu datang dari Zidan F. Rahman, Garda HAM Jawa Barat, saat mengikuti kegiatan “Mewujudkan Masyarakat Sadar HAM melalui Implementasi P5HAM” di Aula Desa Bojong, Sabtu (11/10/2025).

Zidan menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi jembatan antara gagasan dan tindakan. “HAM bukan sekadar urusan negara atau lembaga. Ia soal kesadaran kita bersama,” ujarnya. “Garda HAM sebagai bagian dari Koppeta HAM Jabar siap mengawal implementasi P5HAM di Cianjur agar nilai-nilai kemanusiaan benar-benar hidup di tengah masyarakat, bukan berhenti di dokumen kebijakan.”

Menurutnya, tantangan terbesar bukan kurangnya wacana, tapi lemahnya keberanian untuk mempraktikkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hal-hal kecil di sekolah, di ruang publik, bahkan di media sosial. “Mulai dari sikap saling menghargai, menolak diskriminasi, dan berani menyuarakan keadilan. Dari sana kita belajar memanusiakan manusia,” kata Zidan menutup pernyataannya.

Tak lama setelahnya, Hasbullah Fudail, Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat, menegaskan hal senada. “Jangan hanya jadi penonton,” ucapnya tenang namun tegas, seolah membangunkan kesadaran bahwa hak asasi manusia tidak akan hidup tanpa partisipasi masyarakat. Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap HAM tidak selalu diukur dari banyaknya regulasi, melainkan dari cara kita memperlakukan sesama.

“Kita tidak bisa hanya menonton. Harus jadi penggerak,” ujarnya. “Karena ukuran kemanusiaan bukan di undang-undang, tapi di keseharian seberapa tulus kita menghargai perbedaan.”

Sesi kemudian dilanjutkan oleh Isfhan Taufiq Munggaran, anggota Komisi XIII DPR RI, dengan materi bertema “Asta Citra 1: Memperkokoh Ideologis Pancasila, Demokrasi, dan Hak Asasi Manusia.”


Dengan nada optimis, Isfahan menyebut bahwa Pancasila dan demokrasi adalah dua pilar yang tak terpisahkan dari nilai kemanusiaan. “Pancasila itu bukan sekadar hafalan,” katanya. “Ia hidup ketika kita berani berbeda tapi tetap merasa sebangsa.”

Di tengah suasana desa yang sederhana namun penuh semangat, ketiganya seakan berbicara dalam satu nada: bahwa implementasi HAM tidak akan berarti tanpa kesadaran kolektif. Ia tidak tumbuh dari podium tinggi atau jargon besar, melainkan dari langkah kecil dari keberanian untuk memahami orang lain tanpa menghakimi, dan dari niat tulus untuk memanusiakan sesama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X