Pada akhirnya Kongres tidak memiliki pilihan lain kecuali merubah aturannya sendiri. Bahwa aturan apapun di negara ini Konstitusi harus tetap menjadi payungnya. Ilhan pun seharusnya tidak memiliki hambatan apa-apa dalam menjalankan kewajiban agam sekaligus melakukan pengabdian sebagai warga negara yang diamahi menjadi anggota legislatif.
Ternyata perjalanannya sebagai anggota Kongress, Ilhan menghadapi banyak tantangan. Wanita muda yang berani dan luas pergaulan itu dinilai menjadi ancaman bagi banyak pihak. Khususnya pihak yang selama ini sudah berada dan menikmati zona nyaman perpolitikan di Amerika. Ilhan pun dituduh sebagai anti Yahudi dan dianggap berkali-kali menyampaikan pernyataan yang anti semitisme.
Puncaknya pada pemilihan anggota Kongres baru-baru ini di mana keanggotaan mayoritas Kongress jatuh ke tangan Republicans. Satu dari dia partai besar di Amerika. Kebetukan Partai Republican saat ini sedang terpenjara oleh pengaruh Donald Trump yang anti non White, anti Imigran dan pastinya anti Islam. Ilhan pun harus menerima kenyataan pahit, diblok untuk kembali menduduki posisinya sebagai anggota Komite Urusan Luar Negeri (Foreign Affairs) yang selama ini dudukinya.
Komite ini adalah Komite yang sangat penting dan terhormat karena mereka banyak menentukan posisi kebijakan luar negeri Amerika. Salah satunya adalah kebjakan Amerika terhadap konflik Timur Tengah, khususnya Palestina-Israel. Dengan duduknya Ilhan sebagai anggota Komite, pastinya dirasakan oleh pihak-pihak tertentu sebabai ancaman. Dan karenanya apapun akan dilakukan untuk menghilangkan posisi Ilhan di Komite tersebut.
Selain karena faktor di atas juga ada beberapa faktor lain yang dicurigai sebagaj penyebab dihentikannya Ilhan dari posisi itu. Di antaranya karena memang Republican ini sejak lama dianggap partai anti imigran dan non White. Ilhan Omar pastinya masuk dalam kategori itu.
Baca Juga: Nikah Gratis di KUA, Berikut Syarat dan Ketentuannya
Karena itu satu hal yang ingin saya garis bawahi dan pastikan untuk semua ketahui bahwa di balik keindahan demokrasi dan proses politik di Amerika ternyata tersembunyi penyakit yang mulai menular dari waktu ke waktu. Kasus Ilhan adalah bagian dari symptom penyakit kronis itu.
Dan jika hal ini tidak diakhiri maka Amerika akan menambah catatan kelam dalam sejarahnya sebagai negara yang masih mengidap “rasisme politik”.
Jamaica City, 5 Februari 2023Presiden Nusantara Foundation
Artikel Terkait
Geger! Seorang Polwan Berhubungan Badan dengan 7 Polisi Sekaligus
Viral! Makan Jeruk Dikamar Mandi Bisa Menghilangkan Stres
Menag RI Ingatkan Jajaran Hilangkan Praktik Korupsi
World Interfaith Harmony Week
Informasi Seputar Pendaftaran Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru 2023
Masya Allah, Diam-Diam Ivan Gunawan Bangun Masjid di Uganda Afrika Timur, Biaya dari Kocek Pribadi
Nikah Gratis di KUA, Berikut Syarat dan Ketentuannya
31 Perguruan Tinggi Meriahkan Altie Campus Expo 2023
Bisnis Pesan Makanan dan Minuman Daring Menggiurkan
Kado Satu Abad NU, Jadilah Lebih Berkontribusi Nyata Bagi NU dan NKRI