Saya mencontohkan kemunafikan itu dalam menyikapi pembakaran Al-Quran di Swedia baru-baru ini. Saya tegaskan kembali bahwa kebebasan itu ada batasnya. Kebebasan itu dibatasi oleh karakter yang bermoral atau basis moral dalam menjaga hak orang lain.
“Saya punya kebebasan berbicara. Tapi ketika kata-kata saya menghina orang atau keyakinan orang lain maka itu bukan kebebasan. Itu adalah penghinaan dan kezholiman”.
“And so burning the holy Quran or any other holy books is not an expression of freedom. It is an expression of ignorance, hate, and stupidity”.
Itulah penegasan saya sebagai kata-kata penutup dari presentasi saya di acara itu. Saya yakin ada yang merasa tercubit dengan ketegasan saya. Sebab selalu ada ekspektasi di acara-acara seperti ini untuk kita berkata yang manis-manis saja. Tapi saya justeru yakin terkadang penyakit itu perlu obat yang pahit.
Baca Juga: Bantu Adik Angkatan, Ikatan Alumni Pesantren Al-Ittihad Cianjur Gelar Altie Campus Expo 2023
Semoga kata-kata tegas, bahkan mungkin keras itu, didengar dan mendapat perhatian minimal oleh mereka yang hadir. Semoga!
Manhattan City, 3 Februari 2023
Presiden Nusantara Foundation
Artikel Terkait
Fahri Hamzah Meminta Ubah Mindset untuk Kenaikan Biaya Haji
Perusahaan Rusia Bakal Beri Hadiah Bagi Tentara yang Hancurkan Tank Ukraina
GP Ansor Cikalongkulon Cianjur Gelar Diklatsar Banser di Pesantren Tebuireng 6
Mengenal Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta, Santri Bebas Memilih Perlengkapan Shalat
Bantu Adik Angkatan, Ikatan Alumni Pesantren Al-Ittihad Cianjur Gelar Altie Campus Expo 2023
Kapolesta Cirebon Pimpin Langsung Apel Kesiapan Pengamanan NU Bersholawat
Syair dan Pupuh Dangdang Gula Pembuka Peringatan 1 Abad NU di Cirebon
Geger! Seorang Polwan Berhubungan Badan dengan 7 Polisi Sekaligus
Viral! Makan Jeruk Dikamar Mandi Bisa Menghilangkan Stres
Menag RI Ingatkan Jajaran Hilangkan Praktik Korupsi