Wahai Mentari Pagi!

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB
Ilustrasi sinar matahari. (CWM)
Ilustrasi sinar matahari. (CWM)

Jalan tak pernah terbentang sekaligus; ia menyingkap diri bagi yang berani melangkah.

Lalu engkau bertanya:

"Apa yang membuat hariku masih berarti?"

Bukan karena dunia adil, atau esok pasti menang, tetapi karena engkau masih bebas memilih.

Memilih terang daripada silau. Kebenaran daripada kebisingan. Kasih daripada kebencian.

Memilih tetap jujur ketika dusta menguntungkan, tetap manusia ketika dunia kehilangan kemanusiaan.

Hidup tak diukur dari tinggi berdiri, melainkan dari dalamnya engkau berakar pada kebaikan.

Kelak, nama mungkin hilang, tetapi kebaikan, luka yang diubah menjadi kasih, dan harapan yang ditanam di tengah putus asa, tetap tinggal dalam semesta.

Maka berjalanlah. Jika berat, perlahan. Jika letih, beristirahat, tetapi jangan menyerah.

Sebab fajar tak mengusir malam dengan amarah.

Ia datang, dan dunia berubah.

Jadilah bukan cahaya yang memukau, tetapi terang yang menunjukkan jalan.

Selama nuranimu masih menyalakan cahaya di tengah gelap zaman, harimu tetap berarti.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB
X