JOURNALNUSANTARA.COM - Anyaman janur kuning yang mulai bergantungan di pasar tradisional menandakan hari kemenangan sudah di pelupuk mata.
Ketupat bukan sekadar hidangan pelengkap opor ayam yang wajib ada di meja makan keluarga.
Ia adalah simbol filosofis yang mendalam tentang kerumitan hidup dan ketulusan hati untuk memaafkan.
Proses menganyam sehelai demi sehelai janur menggambarkan betapa rumitnya perjalanan manusia selama setahun penuh.
Ada kesalahan yang terselip, ada ego yang terkadang mengunci, seperti janur yang harus saling mengait agar kuat.
Beras yang dimasukkan ke dalam kulit janur melambangkan nafsu duniawi yang harus dikekang agar tidak meluap keluar.
Ketika direbus dalam waktu lama, beras yang terhimpit itu justru berubah menjadi padat, putih, dan suci.
Ini adalah cerminan dari proses pembersihan diri setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga di bulan suci.
Warna janur yang tadinya kuning cerah berubah menjadi kecokelatan setelah melewati panasnya api perebusan.
Sama halnya dengan manusia yang menjadi lebih dewasa dan matang setelah berhasil melewati ujian kesabaran.
Tradisi membuat ketupat secara mandiri di rumah kini mulai tergerus oleh kepraktisan barang siap saji.
Padahal, di sela jemari yang sibuk menganyam, ada obrolan hangat dan tawa yang mempererat tali silaturahmi.
Ketupat mengajarkan kita bahwa untuk mencapai kesempurnaan bentuk, diperlukan ketelitian dan kesabaran yang luar biasa.
Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan ketupat yang legit dan tahan lama tanpa proses masak yang benar.
Artikel Terkait
Fitrah Kemenangan
Praktek Dokter Mandiri Pringgondani Cianjur Umumkan Jadwal Libur Lebaran 2026
Krisis Energi Meluas, Asia Terpaksa Ubah Pola Hidup Akibat Perang Timur Tengah
Demi Kenyamanan Pemudik, Polres Cianjur Amankan Puluhan Motor Knalpot Brong
KOPRI PC PMII Cianjur Tebar Kebaikan dan Kepedulian Sosial di Bulan Ramadan
Sempat Viral, Warga Sindangkerta Cianjur Gotong Royong Bangun Rutilahu
PMII Cianjur Kecam Keras Aksi Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Sucikan Jiwa dan Sempurnakan Ibadah di Bulan Ramadan dengan Membayar Zakat Fitrah (Bagian 31)
Mutiara Pagi: Saat Idul Fitri Tiba (Bagian 2154)
Gema Fitri di Ambang Pintu