Tombo Ati Ramadhan: Menemukenali Rumus Tuhan Masa Depan

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Kamis, 5 Maret 2026 | 08:26 WIB
Ilustrasi Ramadhan 2026 1447 H, simak jadwal imsakiyah dan buka puasa khusus wilayah Jember (pexels/Mohammed Alim)
Ilustrasi Ramadhan 2026 1447 H, simak jadwal imsakiyah dan buka puasa khusus wilayah Jember (pexels/Mohammed Alim)

Oleh: Muhammad Sabri

Postscriptus yang mengguncang. Akhir yang menggugat: "masihkah Tuhan punya masa depan?" Pesan itu seolah hadir untuk mengoyak ketertiban iman, “maybe God really is an idea of the past,” begitu pendakuan Karen Armstrong dalam bab terakhir bukunya yang monumental The History of God. Buku yang lahir dari buah riset yang ketat dan genial: bagaimana manusia sepanjang tak kurang dari 4000 tahun tanpa mengenal letih, mencoba “merumuskan” Tuhan.

Tuhan “masa lalu” adalah Tuhan yang memiliki peran decisive dalam denyut nadi sejarah manusia yang beku. Tiga pilar wiracarita soal Tuhan pun diluahkan dalam narasi-narasi besar (grand narrative): mitos, Kitab Suci, dan sains. Masing-masing punya argumen yang riuh.

Tak ada mufakat. Saling debat. Di sana, ada seteru abadi yang menggenang. Satu-satunya yang secara nisbi bisa diterima tanpa jejak pertikaian: bahwa Tuhan "ditemukan" dalam aksara lalu diekspresikan dalam semesta amsal yang jamak.

Namun, haruskah ini berarti jika Tuhan akan tetap memainkan peran “masa lalu”-Nya untuk masa kini dan masa depan? Apakah “paham” tentang Tuhan masa lalu akan tetap bertahan dalam sebilah keyakinan dan tersimpan rapi dalam pualam dogma yang dingin?

Adakah “rumusan” Tuhan masa silam akan selalu bersemayam di “langit” transenden, dan membiarkan semesta berlari di atas hukum-hukum kosmik yang teguh?

Armstrong, lagi-lagi bersikukuh dengan temuannya, setelah dengan benderang menghamparkan sukma zaman (zeitgeist) masa kini yang suram: aneka kekerasan dan perang, kehancuran ekologi yang pilu, demoralisasi gelap, dehumanisasi hitam, aneka penyakit kronis yang tak tersembuhkan, penduduk yang kian eksplosif, kelaparan dan kekeringan yang terus menganga, aneka virus yang menghadirkan kematian masif, hingga agama yang sejauh ini diandaikan sebagai medan paling otoritatif “mempercakapkan” Tuhan justru jadi institusi yang "memupuk" api kebencian dan pertikaian panjang.

Dalam huru hara zaman seperti ini, masihkah “paham” tentang Tuhan bermakna dan bisa dipertahankan? Kesangsian, tiba-tiba menjadi segumpal kabut dalam jawaban Armstrong.

Tampaknya, iman, Tuhan, dan sejarah bukanlah sebilah arus sepihak, tapi pesona persilangan yang penuh gelora dan juga kisah. Sejarah pun mewartakan bahwa Tuhan adalah episentrum: selalu saja ada detak rindu yang gigil untuk menemu Tuhan di setiap nafas zaman.

Ide manusia tentang Tuhan memiliki sejarah; gagasan itu selalu punya arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang mengonstruksinya di pelbagai penggalan waktu.

Dan kita tahu, “tafsir” menjadi lalu lintas paham yang tak sedikit menerbitkan sengketa. Mungkin sebab itu, acap kali kita menemukan ada selisih dan seteru dalam "praktik" bertuhan.

Ada amuk dan perang yang gemuruh "atas nama" Tuhan. Sikap radikalisme buta, fanatisme batu, dan eksklusi beragama yang belum terdewasakan, lalu menjelma “titik didih” di balik tindak sistemik pemusnahan kemanusiaan.

Gagasan tentang Tuhan di “masa depan,” musti keluar dari dinding simbol, jangkar citra, dan terungku simulakrum tanda. Ide tentang Tuhan “masa depan,” sebab itu, mengandaikan pentingnya sikap rendah hati, welas asih, intersubyektif, membebaskan, dan pos-dogmatik kaum beriman dalam setiap ikhtiar mengeja nama, sifat, dan titah-Nya.

Bung Karno mengandaikannya secara genial, yang dicetuskan pada pidato legendaris 1 Juni 1945 di hadapan Sidang Besar BPUPK, sebagai "Ketuhanan yang berkebudayaan."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X