Titik Nadir

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Kamis, 5 Maret 2026 | 08:12 WIB
Spot ngabuburit di Bogor yang nyaman dan sejuk, buat menunggu waktu buka puasa (Instagram/@pemkotbogor)
Spot ngabuburit di Bogor yang nyaman dan sejuk, buat menunggu waktu buka puasa (Instagram/@pemkotbogor)


Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, belum pernah aku merasa sedemikian rendah dalam lengkung waktu seperti hari-hari ini seakan langkah ini tiba di dasar lembah yang paling sunyi, titik nadir tempat cahaya harapan menipis seperti senja yang hampir tenggelam di ufuk barat.

Sebagai warga dunia, aku menyaksikan langit peradaban melegam. Tatanan yang dahulu dijanjikan sebagai rumah bersama kini retak di tangan para pembuli dan perampas, yang mengukur marwah dengan kekuatan, dan menganggap belas kasih sebagai kelemahan.

Sebagai warga negara, aku kecewa melihat tata kelola pemerintahan yang kian amburadul. Sikap dan kebijakan lahir tergesa, blunder demi blunder berulang, seakan kemudi negeri diputar tanpa arah.

Sebagai pribadi, aku pun diuji oleh batas tubuh sendiri. Rencana-rencana yang dulu berlari di kepalaku kini tertatih menunggu tenaga yang kian rapuh. Gagasan masih menyala, tetapi daya tak selalu menyertai.

Bahkan sebagai pencari penghiburan, aku ikut merasakan kehilangan. Permainan Manchester City yang dulu memantik kegembiraan kini terasa hambar, tak memperlihatkan determinasi dan daya pukau.

Lebih dari itu, yang runtuh adalah kepercayaan.Tak ada lagi kebanggaan pada dunia pendidikan ketika muruah keilmuan terbeli. Tak ada lagi kebanggaan pada organisasi keagamaan ketika kesucian ajaran tercemar.

Tak ada lagi kebanggaan pada dunia usaha ketika pertumbuhan diraih dengan merusak alam dan menyengsarakan rakyat.

Tak ada lagi kebanggaan pada dunia politik ketika kekuasaan dicengram dinasti dan oligarki. Tak ada lagi kebanggaan pada negara hukum ketika penegaknya menjadi pagar yang memakan tanaman.

Ya Tuhan, selamatkan kami. Jadikan yang tak mungkin menjadi mungkin. Tuntunlah kami ke jalan cahaya.

Lautan negeri ini luas dan ombaknya ganas menerjang. Bahtera kami oleng, penumpangnya mabuk kepayang, sebagian lain panik tunggang langgang. Sedang nahkoda dan awak kapal limbung alpa menuntun prosedur penyelamatan.

Atas berkat rahmat-Mu bangsa ini berulang kali lolos dari kemelut sejarah. Kali ini pun, setelah ikhtiar segala cara dicoba, kami tawakal meyakini-Mu juru selamat. Kepada-Mu kami berserah diri, dan kepada-Mu kami memohon pertolongan. Amien!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X