Kematian Mulia

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 31 Desember 2025 | 07:54 WIB
Ilustrasi kuburan, cerpen pilihan. (metaAi)
Ilustrasi kuburan, cerpen pilihan. (metaAi)

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, kabar itu datang seperti sentakan petir di langit batin. Baru Sabtu (20/12) lalu, beliau menyambut dengan senyum hangat, mengajak saya berfoto dalam peringatan Konsili Vatikan II seolah waktu masih berjanji panjang.

Rabu (24/12), tulisannya masih singgah di WhatsApp saya: “Kesadaran Diri dan Sejarah.” Minggu pagi, pukul 4.58 (28/12), beliau masih merespons catatan saya.

Lalu, tanpa aba-aba, Senin dini hari (29/12), kabar kepergiannya beredar di media sosial. Sunyi pun sontak menutup ruang batin.

Romo Fransiscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, adalah sahabat rohani yang saya kenal lewat jejaring kebangsaan, kemanusiaan, kebudayaan, dan persaudaraan lintas iman.

Kami beberapa kali dipertemukan sebagai narasumber, disatukan oleh kecintaan pada pertunjukan seni-budaya, dan dipererat sebagai anggota Dewan Pendiri Aliansi Kebangsaan.

Ia manusia multidimensional—sosok liminal yang menjembatani agama, budaya, politik, intelektual, dan advokasi kemanusiaan. Berita kepergiannya meninggalkan sunyi yang mendalam, seperti ruang batin yang kosong.

Kepergiannya yang mendadak mengingatkan kita bahwa kematian selalu penuh kejutan; ia seperti bunga yang hari ini semerbak dan esok layu, atau cahaya yang sesaat menembus malam sebelum kembali surut.

Kesadaran akan kefanaan mendorong kita menghargai makna, menautkan nilai, dan menebar kebaikan.

Kekayaan, jabatan dan kesarjanaan hanyalah buih jika tak menumbuhkan raharja bagi kehidupan; hanya warisan ilmu bermanfaat, amal kebaikan, dan kesalehan generasi pelanjut yang membuat kita terus hidup dan menghidupkan.

Berkarya, berderma, dan melayani sesama adalah jalan sunyi menuju abadi, dan itulah jejak yang tetap hidup meski raga telah tiada.

Hidup yang singkat tetap bisa meninggalkan jejak seperti bunga yang cepat layu, tetapi namanya harum lestari anggrek, mawar, dan bunga lain yang tertinggal dalam ingatan semesta.

Menulislah selagi hidup, atau biarlah hidupmu dituliskan orang saat engkau tiada, karena hidup yang mulia memberi arti, dan dalam kematian kita menemukan keabadian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X