(Telaga air mata di taman kehidupan Muhammad Iqbal)
Iqbal ketika menyambut kematiannya
Meletakkan tangan di jantungnya:
“Kini, sakit telah sampai di sini”
Ia merintih sejenak, tersenyum lalu pergi
bersama garuda cita-cita humanismenya
bersama garuda cita-cita religiusnya
untuk kembali kepada Sang Pencipta
Di atas bahu waktu, ia mengajarkan
bahwa cinta kepada kehidupan
tidak dibangun melalui pelarian
melainkan melalui keberanian
untuk menghadapi kenyataan
Dengan untaian kata yang indah
Iqbal pun berpetuah:
“Bangun dan bangkitlah …
Hapuskan sisa-sisa hukum
dan kebiasaan masa lalu …
Sebab mereka berdiri bagaikan tirai besi
yang memisahkan Tuhan dan manusia …
Karena mereka mencoba menipu diri sendiri,
di hadapan Tuhan dan berhala-hala
dengan sujud dan bicara tanpa makna”
Maka bangun dan bangkitlah
dengan cinta yang indah
tidak hanya pada momen bahagia
melainkan pada detik-detik rapuh
namun memilih untuk tetap teguh
Setia pada nilai dan harapan,
pada keindahan dan kerendahatian
yang lebih besar dari ambisi
dan lebih luas dari ego yang kita miliki
di atas bahu waktu, hidup itu mengalir
namun bukan sekadar menunggu takdir
di telaga air mata kehidupannya Iqbal berkata,
kata-katanya jatuh seperti doa:
“Kukatakan padamu ciri seorang mukmin
Bila maut datang, akan merekah senyum di bibir”
Malang, 31 Desember 2023
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Lingkaran yang Tepat (Bagian 2073)
Mengenal Rayya Haq, Puteri Indonesia Jatim 2026 yang Memikat Hati
Rumah Anti Bocor
Catatan Akhir Tahun 2025: Ikhtiar YLBH Cianjur Menjaga Nalar Keadilan di Masa Transisi
Mutiara Pagi: Senyum (Bagian 2074)
Banjir Berulang Kalsel, Alarm Kegagalan Tata Kelola dan Urgensi Audit Lahan
DPRD Kabupaten Cianjur Gelar Rapat Paripuna Perihal Penyampaian RAKERDA APBD Tahun 2026
Viral, Percakapan Kepala Desa di Cianjur ngajak "Ehem-Ehem" , Warga Demo Menuntut untuk Mundur
KUHAP dan Aparat Penegak Hukum (APH)
GP Ansor Karangtengah Cianjur Gelar Refleksi Akhir Tahun di Saung Ruang Tumbuh