Diceritakan bahwa KH. Wahid Hasyim, saat masih muda, tanpa disuruh telah menyiapkan air wudu untuk ayahnya dan membersihkan ruangan khusus untuk menjamu para tamu ulama.
Dari khidmah inilah lahir para pemimpin bangsa yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu (alim), tetapi juga kemuliaan budi pekerti (beradab).
Terdapat perbedaan mendasar antara hubungan karyawan dan bos yang bersandar pada akad mu‘amalah duniawi terdapat kontrak, imbalan, dan target dengan hubungan santri dan guru yang bersandar pada akad ruhani, yang didasari adab, khidmah, dan harapan keberkahan.
Karyawan menukar tenaga dengan uang sebagai bekal hidup di dunia, sedangkan santri menukar tenaganya dengan ilmu dari guru sebagai bekal kehidupan di dunia hingga akhirat. Sederhananya, karyawan mencari penghidupan, sementara santri mencari kehidupan sejati.
Maka, wajar jika muncul pernyataan, "Karyawan saja dengan sukarela membantu bos karena diberi bayaran. Masa santri yang tiap hari diberi ilmu tidak boleh khidmah kepada gurunya?" Sesungguhnya, santri berkhidmah bukan karena kewajiban formal, tetapi didorong oleh kesadaran batin bahwa di balik setiap tetes peluh pengabdiannya, tersemat keberkahan ilmu, mengiringi doa guru yang menembus langit, dan terbalas dengan kasih sayang yang tak ternilai harganya.
Sebab pada intinya, ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya akan bersemayam di hati yang tunduk, bersih, dan dipenuhi rasa hormat. Ketundukan santri kepada kiai ini pula yang memiliki andil besar dalam mengokohkan kedaulatan bangsa.
Pasca-kemerdekaan, ketika Indonesia menghadapi rongrongan luar, para kiai mengerahkan santri yang didahului dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang kemudian memicu peristiwa heroik 10 November 1945.
Kala itu, dengan kekuatan angkatan bersenjata yang masih terbatas, para santri rela berjuang tanpa imbalan, menukar jiwa dan raga demi titah kiai. Andil besar ini adalah buah dari didikan pesantren yang menanamkan ketaatan dan pengharapan berkah dari setiap perintah guru.
Artikel Terkait
Menjaga Marwah Pesantren, Benteng Moral dan Identitas Bangsa
Mutiara Pagi: Belajar Arti Ketenangan (Bagian 2003)
Menggenggam Makna di Balik Hormat Bendera
Marwah Kiai dan Pesantren Dilecehkan, Ansor-Banser DKI Segel Kantor Trans7
PH Shandhika Widya Cinema, 'Raja Infotainmen' di Balik Kontroversi Xpose Uncensored Trans7
Kontradiksi Tiga Golongan Jawa: Mengapa Hanya Santri yang Konsisten Melawan Penjajah?
Satgas Penanganan Pesantren Dibentuk Pasca Tragedi Al Khozini, Begini Respon Perhimpunan Pesantren Tradisional Indonesia
Mutiara Pagi: Percayalah (Bagian 2004)
GP Ansor Keluarkan Maklumat Bandung: Serukan Resolusi Jihad Jaga Kyai, Jaga Negeri
SMAN 1 Warungkondang Cetak Generasi Wirausaha Melalui Bazar Kreatif Sekolah