Adab dan Khidmah, Jembatan Ruhani Santri Menuju Cahaya Ilmu

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 15:26 WIB

Diceritakan bahwa KH. Wahid Hasyim, saat masih muda, tanpa disuruh telah menyiapkan air wudu untuk ayahnya dan membersihkan ruangan khusus untuk menjamu para tamu ulama.

Dari khidmah inilah lahir para pemimpin bangsa yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu (alim), tetapi juga kemuliaan budi pekerti (beradab).

Terdapat perbedaan mendasar antara hubungan karyawan dan bos yang bersandar pada akad mu‘amalah duniawi terdapat kontrak, imbalan, dan target dengan hubungan santri dan guru yang bersandar pada akad ruhani, yang didasari adab, khidmah, dan harapan keberkahan.

Karyawan menukar tenaga dengan uang sebagai bekal hidup di dunia, sedangkan santri menukar tenaganya dengan ilmu dari guru sebagai bekal kehidupan di dunia hingga akhirat. Sederhananya, karyawan mencari penghidupan, sementara santri mencari kehidupan sejati.

Maka, wajar jika muncul pernyataan, "Karyawan saja dengan sukarela membantu bos karena diberi bayaran. Masa santri yang tiap hari diberi ilmu tidak boleh khidmah kepada gurunya?" Sesungguhnya, santri berkhidmah bukan karena kewajiban formal, tetapi didorong oleh kesadaran batin bahwa di balik setiap tetes peluh pengabdiannya, tersemat keberkahan ilmu, mengiringi doa guru yang menembus langit, dan terbalas dengan kasih sayang yang tak ternilai harganya.

Sebab pada intinya, ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya akan bersemayam di hati yang tunduk, bersih, dan dipenuhi rasa hormat. Ketundukan santri kepada kiai ini pula yang memiliki andil besar dalam mengokohkan kedaulatan bangsa.

Pasca-kemerdekaan, ketika Indonesia menghadapi rongrongan luar, para kiai mengerahkan santri yang didahului dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang kemudian memicu peristiwa heroik 10 November 1945.

Kala itu, dengan kekuatan angkatan bersenjata yang masih terbatas, para santri rela berjuang tanpa imbalan, menukar jiwa dan raga demi titah kiai. Andil besar ini adalah buah dari didikan pesantren yang menanamkan ketaatan dan pengharapan berkah dari setiap perintah guru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X