Ketika senja mulai turun perlahan
Menyisakan cahaya di pelataran
Di sanalah terdapat arti ketenangan
Bahwa setiap akhir menyimpan permulaan
Hidup bukan sekadar perjalanan panjang
Namun rangkaian niat yang tulus dan lapang
Menyalakan harapan di hati yang gersang
Memberi makna pada setiap datang dan hilang
Tak perlu menjadi api yang besar
Cukup lentera yang tak pernah gentar
Meski kecil, tapi tetap menyebar
Memberi cahaya bagi yang bersabar
Dalam diam, ada doa yang mengalir
Dalam langkah, ada niat tulus yang mengukir
Bahwa kebaikan tak butuh rencana besar
Cukup kesetiaan yang terus mekar
Jika hari ini terasa berat
Yakinlah, ada lelah yang diganti nikmat
Sebab Tuhan tak menutup pintu rahmat
Bagi mereka yang bersabar di setiap hikmat
Teruslah menyalakan harapan
Walau angin mencoba memadamkan
Sebab cahaya sejati tak bisa dipadamkan
Selama hati berada dalam genggaman Tuhan
Malang, 20 Oktober 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Menjadi Cahaya (Bagian 2001)
Merawat Tubuh di Tengah Perubahan Cuaca Ekstrem
Menyiasati Musim Pancaroba, Mengenali Dampak dan Kunci Menjaga Imunitas
Mengenal Peran Vital Angin Muson di Indonesia
Ancaman dan Bahaya Angin Puting Beliung
Gerakan Ekonomi Rakyat Menyala, Kopdes Merah Putih Bunisari Memimpin Kebangkitan Desa Agrabinta
Mutiara Pagi: Cahaya yang Tak Pernah Redup (Bagian 2002)
Ritual Minggu Pagi, Menciptakan Ketenangan dan Produktivitas
Secangkir Cerita Senja, Ngopi Santai dengan Bidadari Langit
Pemdes dan MUI Bojong Gelar Maulid Nabi, Hadirkan KH Cheepy Hibatulloh