(Suatu siang di Diponegoro 21, Menteng Jakpus)
Ketika siang mulai menyapa bumi
Langit berbisik lembut dalam harmoni
Bahwa setiap insan yang menebar kebaikan
Adalah lentera dalam kegelapan
Cahaya itu tak selalu terang
Kadang redup, namun tetap tenang
Bersumber dari ketulusan
Bukan pujian semu dan kepura-puraan
Setiap langkah yang dilakukan
Menjadi saksi tentang kesungguhan
Bahwa hidup bukan hanya tentang diri
Tapi bagaimana memberi dan berbagi
Di setiap kata, ada doa yang bergetar
Di balik senyum, ada kasih yang selalu mekar
Semua itu lahir dari kesabaran
Dan tumbuh dalam ladang keikhlasan
“Jangan takut tidak berhasil”, petuahnya
Karena bintang pun tampak redup di langit senja
Namun cahayanya abadi di pandang jiwa
Menerangi malam yang penuh dengan makna
“Jangan biarkan hidup ini sia-sia”, ungkapnya
Tidak membawa manfaat bagi sesama
Karena kelak, saat tirai dunia tertutup
Hanyalah cahaya kebaikan yang tak pernah redup
Jakarta, 19 Oktober 2025
Salam Sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
BEM PTNU Gelar Aksi Moral di Depan KPI, Bela Marwah Kiai dan Pesantren
Mutiara Pagi: Menjadi Ada (Bagian 2000)
Mengikuti Suluk Jumadil Awal 1447 H (Thariqah Naqshabandiyah Khalidiyah)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Anak sebagai Benih Unggul Peradaban (Bagian 9)
Mutiara Pagi: Menjadi Cahaya (Bagian 2001)
Merawat Tubuh di Tengah Perubahan Cuaca Ekstrem
Menyiasati Musim Pancaroba, Mengenali Dampak dan Kunci Menjaga Imunitas
Mengenal Peran Vital Angin Muson di Indonesia
Ancaman dan Bahaya Angin Puting Beliung
Gerakan Ekonomi Rakyat Menyala, Kopdes Merah Putih Bunisari Memimpin Kebangkitan Desa Agrabinta