Journalnusantara.com, Jakarta – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) DKI Jakarta mengambil tindakan tegas yang mengejutkan publik dengan menggeruduk dan menyegel kantor Trans7 di Jakarta.
Aksi yang dipimpin langsung oleh Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta, H. Muhammad Ainul Yakin, ini merupakan puncak kemarahan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama tersebut atas dugaan pelecehan terhadap martabat kiai dan dunia pesantren dalam salah satu tayangan program stasiun televisi tersebut.
Penyegelan kantor Trans7 oleh Ansor-Banser menjadi simbol perlawanan dan pembelaan yang tidak bisa ditawar-tawar.
Dalam orasinya, Ainul Yakin menyampaikan empat tuntutan keras yang harus dipenuhi.
Pertama, mendesak Presiden Prabowo Subianto agar memerintahkan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk segera mencabut hak siar Trans7.
Kedua, mendesak Kapolri untuk memproses hukum seluruh pihak yang bertanggung jawab atas produksi dan penayangan konten pelecehan tersebut. Ansor memandang persoalan ini bukan sekadar kesalahan administratif penyiaran, melainkan pelanggaran hukum serius.
Ketiga, Ansor menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin, keluarga besar pondok pesantren, dan alumni pesantren se-Indonesia untuk melakukan boikot total terhadap seluruh produk yang terafiliasi dengan CT Corp, termasuk Transmedia, Bank Mega, Allo Bank, dan Transmart.
Langkah boikot ini dimaksudkan sebagai tekanan ekonomi dan moral agar pihak korporasi menyadari kesalahan fatal yang telah dilakukan. Terakhir, GP Ansor menuntut Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, untuk segera mengklarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh umat Islam, khususnya komunitas pesantren.
"Aksi ini mengirimkan pesan kuat bahwa kehormatan pesantren dan kiai adalah harga mati," tukasnya.
#BOIKOTTRANS7
#TUTUPTRANS7
#kawaltrans7
Artikel Terkait
Menyiasati Musim Pancaroba, Mengenali Dampak dan Kunci Menjaga Imunitas
Mengenal Peran Vital Angin Muson di Indonesia
Ancaman dan Bahaya Angin Puting Beliung
Gerakan Ekonomi Rakyat Menyala, Kopdes Merah Putih Bunisari Memimpin Kebangkitan Desa Agrabinta
Mutiara Pagi: Cahaya yang Tak Pernah Redup (Bagian 2002)
Ritual Minggu Pagi, Menciptakan Ketenangan dan Produktivitas
Secangkir Cerita Senja, Ngopi Santai dengan Bidadari Langit
Pemdes dan MUI Bojong Gelar Maulid Nabi, Hadirkan KH Cheepy Hibatulloh
Mutiara Pagi: Belajar Arti Ketenangan (Bagian 2003)
Menggenggam Makna di Balik Hormat Bendera