Journalnusantara.com - Pelecehan yang dilakukan oleh Trans7 terhadap tradisi pesantren dan para kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) ditanggapi serius oleh Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Organisasi kepemudaan Islam terbesar di bawah naungan NU itu menggelar konsolidasi nasional di Soreang, Bandung, pada 17–19 Oktober 2025.
GP Ansor menilai bahwa tindakan Trans7 bukan sekadar kesalahan teknis atau kebetulan, melainkan bagian dari desain besar yang digerakkan oleh kelompok keagamaan tertentu.
Kelompok ini, menurut GP Ansor, sejak lama berseberangan dengan NU, bahkan keberadaannya menjadi salah satu alasan berdirinya NU pada tahun 1926.
Kelompok tersebut diduga telah lama menginfiltrasi berbagai media nasional, khususnya televisi yang memiliki jangkauan luas dan pengaruh besar terhadap opini publik.
Media televisi dianggap sebagai sarana efektif untuk menyebarkan provokasi dan doktrin ideologis yang menyasar masyarakat luas.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menyebut tayangan Trans7 itu sebagai “tayangan jahat” karena berpotensi memicu konflik antarkelompok keagamaan dan mengancam persatuan nasional.
Menurut pandangannya, sikap tegas perlu diambil agar kejadian serupa tidak terulang, demi menjaga keharmonisan dan keutuhan bangsa.
Di akhir Rakornas di Soreang, GP Ansor mengeluarkan Maklumat Bandung yang menegaskan perlawanan terhadap framing jahat Trans7 terhadap kiai, pesantren, dan NU.
Dalam maklumat tersebut, GP Ansor menyerukan agar Ketua Umum PBNU segera mengeluarkan Resolusi Jihad “Jaga Kyai, Jaga Negeri” pada peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang.
Jihad yang dimaksud bukan dalam arti kekerasan, melainkan sebagai ikhtiar melawan narasi dan framing negatif yang terus disebarkan oleh kekuatan gelap di balik Trans7, termasuk melalui buzzer-buzzer di media sosial.
GP Ansor menegaskan bahwa perlawanan terhadap Trans7 bukan semata karena rasa marah atas pelecehan terhadap kiai dan pesantren, tetapi juga sebagai bentuk perjuangan melawan upaya sistematis yang berpotensi memecah belah umat dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap NU serta Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Gerakan ini, kata Ansor, membutuhkan soliditas, militansi, dan pengorbanan dari seluruh warga NU. “Bagi kami, kader-kader GP Ansor dan Banser, jika kiai dan NU sudah memanggil, maka tidak ada kata menyerah!” tegas pernyataan itu.
#JagaKyai
#JagaPesantren
#JagaNU
#SatuKomandoPBNU
#SatuKomandoGusYahya
#ResolusiJihad22Oktober
Artikel Terkait
Secangkir Cerita Senja, Ngopi Santai dengan Bidadari Langit
Menjaga Marwah Pesantren, Benteng Moral dan Identitas Bangsa
Pemdes dan MUI Bojong Gelar Maulid Nabi, Hadirkan KH Cheepy Hibatulloh
Mutiara Pagi: Belajar Arti Ketenangan (Bagian 2003)
Menggenggam Makna di Balik Hormat Bendera
Marwah Kiai dan Pesantren Dilecehkan, Ansor-Banser DKI Segel Kantor Trans7
PH Shandhika Widya Cinema, 'Raja Infotainmen' di Balik Kontroversi Xpose Uncensored Trans7
Kontradiksi Tiga Golongan Jawa: Mengapa Hanya Santri yang Konsisten Melawan Penjajah?
Satgas Penanganan Pesantren Dibentuk Pasca Tragedi Al Khozini, Begini Respon Perhimpunan Pesantren Tradisional Indonesia
Mutiara Pagi: Percayalah (Bagian 2004)