Penjaga Pintu Kudus

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 15 Oktober 2025 | 06:43 WIB
Pintu sempit di tembok Kota Yerusalem yang dikenal dengan sebutan 'lubang jarum'ng dik
Pintu sempit di tembok Kota Yerusalem yang dikenal dengan sebutan 'lubang jarum'ng dik

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, di jantung Yerusalem Tua, di antara lorong-lorong batu yang telah menyerap doa dan darah beribu tahun, berdirilah Gereja Makam Kudus (Holy Sepulchre) tempat di mana umat Kristen percaya Kristus dimakamkan dan bangkit kembali.

Batu-batunya lembap oleh waktu, udaranya berat oleh ziarah dan tangisan. Di sini, sejarah tak pernah benar-benar berakhir ia hanya berputar dalam lingkar kesetiaan dan luka.

Namun, di tengah tempat yang menjadi lambang iman Kristen itu, dua keluarga Muslim memegang satu amanat suci selama delapan abad menjaga pintu gereja ini.

Sejak abad ke-12, setelah pasukan Salahuddin al-Ayyubi merebut kembali Yerusalem dari peristiwa Perang Salib, timbul satu kebijaksanaan yang melampaui zaman.

Untuk mencegah perebutan dan sengketa antar sekte Kristen yang kerap bersaing memegang kunci gereja, Salahuddin mempercayakan amanah itu kepada dua keluarga Muslim Nuseibeh dan Joudeh keluarga yang dikenal jujur, terhormat, dan netral.

Sejak saat itu, dari tangan ke tangan, dari ayah ke anak, kunci itu berpindah dengan doa dan tanggung jawab.

Setiap pagi, keluarga Joudeh membawa kunci besi besar yang telah berabad usianya, menyerahkannya kepada keluarga Nuseibeh untuk membuka pintu kayu berat gereja itu.

Saat pintu berderit perlahan, dunia seakan diajak belajar kembali tentang makna koeksistensi.

Tentang bagaimana sejarah bisa dijaga tanpa saling menguasai tentang bagaimana iman bisa menjadi jembatan, bukan jurang.

Di dunia yang mudah terbakar oleh prasangka, kisah ini adalah lentera kecil yang menolak padam.

Dua keluarga Muslim menjaga tempat paling suci umat Kristen bukan karena mereka harus, melainkan karena mereka memahami sesuatu yang lebih dalam bahwa kesucian sejati bukan milik satu umat, melainkan milik semua pecinta kedamaian.

Mungkin Tuhan tersenyum di sana di antara gema langkah para peziarah dan doa yang dilantunkan berbagai lidah melihat anak-anak Ibrahim saling menjaga rumah satu sama lain.

Di kota yang disebut suci namun sering terluka, kisah dua keluarga ini adalah ayat hidup tentang kasih yang melampaui batas keyakinan bahwa menjaga tempat suci, pada hakikatnya, adalah menjaga kemanusiaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X