Mensakralkan Guru: Membandingkan Tradisi Penghormatan dalam Buddhisme Vajrayana dan Islam Tasawuf

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 14 Oktober 2025 | 20:00 WIB
Pondok Pesantren Lirboyo. (Lirboyo.net)
Pondok Pesantren Lirboyo. (Lirboyo.net)

العلم بالتعلم والبركة بالخدمة والمنفعة بالطاعة

(Ilmu diperoleh dengan belajar, keberkahan diperoleh dengan melayani, dan manfaat diperoleh dengan taat)

Viralnya tayangan Trans7 yang mengolok-olok tradisi pesantren mendorong saya menilik isu penghormatan guru dari perspektif ajaran Buddha, khususnya Vajrayana. Dalam Buddhisme, terdapat tingkatan atau 'trap' pemahaman spiritual yang berbeda:

Tingkat 1: Theravada (Kemandirian Diri)

Ajaran awal Buddha ini ditujukan kepada para petapa dan cendekiawan yang sudah kenyang dengan pengalaman mistisisme, namun spiritualitas mereka saat itu sangat bergantung pada sosok eksternal (guru atau dewa).

Di tahap ini, Buddha menekankan kultivasi diri sendiri daripada sosok eksternal. Peran mistisisme dibuat minimalis; yang utama adalah berbuat baik dan mengolah batin melalui meditasi. Oleh karena itu, peran guru eksternal tidak menonjol, hanya ada penghormatan formal seorang umat awam kepada para bhikkhu atau anggota sangha.

Tingkat 2: Mahayana (Cinta Kasih dan Egaliter)

Setelah 18 tahun, ketika murid-murid dianggap matang, Sang Buddha mewejangkan Mahayana. Tingkat kedua ini mulai menambah unsur mistisisme untuk mengembangkan cinta kasih, tidak lagi hanya mengandalkan rasionalisme analitik dan empirisme seperti pada Theravada.

Penghormatan pada sosok-sosok sakti seperti para Bodhisattva (mirip waliyullah dalam Islam) mulai diperkenalkan, diiringi tradisi zikir atau japa mantra sebagai pendamping meditasi. Peran guru dan murid, umat awam dan bhikkhu, di sini cenderung lebih egaliter, meskipun bhikkhu tetap dihormati secara khusus.

Tingkat 3: Vajrayana (Esoterik dan Pensakralan Guru)

Vajrayana atau Tantra Buddha adalah ajaran esoterik yang merupakan kelanjutan dari Theravada dan Mahayana. Ajaran ini awalnya ditujukan kepada raja dan kaum bangsawan. Dalam Vajrayana, unsur mistisisme menjadi lebih kaya dan mendalam daripada Mahayana, begitu juga praktik asketisme yang lebih mendalam dari Theravada.

Tradisi Vajrayana ini mirip dengan tradisi Tasawuf Esoteris dalam Islam. Wirid/mantra dan suluk/sadhana harus didapatkan melalui baiat/abhiseka seorang guru/mursyid yang bersanad/bersilsilah jelas. Oleh karena itu, peran guru dalam Vajrayana sangat dihormati, bahkan disakralkan.

Kesamaan Budaya Spiritual Nusantara

Komunitas Buddhis Vajrayana di Tibet tidak jauh berbeda dengan nuansa Pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia. Di sana, sila/adab/tata krama kepada guru dijunjung lebih tinggi daripada ilmu/kepintaran. Jika Tasawuf mengenal rabithah (ikatan rohaniah dengan guru), Buddhis Vajrayana mengenal konsep "guru yoga" yang memiliki makna serupa. Buddhisme Tantra inilah yang dulu menjadi kiblat ajaran Buddha di Nusantara.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Festival Sisingaan Subang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X