Memang, di setiap ajaran spiritual ada kelompok yang minimalis dalam penghargaan terhadap guru (seperti Wahabi atau Theravada), dan ada pula yang terlampau menuhankan guru (seperti beberapa komunitas Sai Baba).
Namun, kultur spiritual orang Jawa dan Buddhis Nusantara sejak dulu bersifat seimbang: mensakralkan sosok guru secara sosio-kultural, namun tetap mandiri dalam mengolah batin.
Oleh karena itu, menyimak tayangan viral Trans7 yang mengolok-olok tradisi pesantren terasa kurang sreg. Meskipun tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya skandal feodalisme di beberapa pesantren, kita tidak boleh lantas menggeneralisasi (gebyah uyah) bahwa semua tradisi penghormatan khusus pada guru itu jelek dan pembodohan. Sudah sejak lama saya tahu bahwa Trans7 seringkali menjadi corong suara kelompok yang dangkal kecerdasan olah rasanya dalam menghormati apa yang pantas dihormati.
Artikel Terkait
Festival Sisingaan Subang
Prinsip Dasar dan Klasifikasi Rambu Lalu Lintas
Pesona Indonesia di Mata Dunia: Keindahan Tropis, Budaya Abadi, dan Pengakuan Global
Ustadz Maulana dan Program Islam Itu Indah
Mutiara Pagi: Pengabdian (Bagian 1996)
STISNU Nusantara Tangerang Sukses Gelar Omni Sains Indonesia 2: Wujudkan Kampus Sebagai Rumah Pembinaan Prestasi Sejak Dini
Mutiara Pagi: Ruh Hukum (Bagian 1997)
BEM PTNU Se-Nusantara Kecam Keras Trans7, Narasi Lecehkan Kiai dan Pesantren Lirboyo Dianggap Lukai Jutaan Santri
Definisi Sukses Versi Purbaya: Mati Masuk Surga
Aliansi Santri Pergerakan Serukan Aksi Boikot Trans7