Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang pemimpin adalah perisai; orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pertanyaan penting pun muncul: apakah pemimpin hari ini sudah menjadi perisai rakyat, atau justru pedang yang melukai mereka?
Reformasi regulasi juga mutlak diperlukan. Transparansi dana politik, pembatasan biaya kampanye, serta mekanisme yang meminimalkan intervensi modal besar menjadi langkah konkret untuk membatasi oligarki.
Pemimpin pun harus berpegang pada etika kepemimpinan Qur’ani. Umar bin Khattab ra. berpesan: “Barang siapa mengurus urusan kaum Muslimin lalu ia tidak memperhatikan mereka, maka ia bukanlah bagian dari mereka.”
Penutup
Akhirnya, demokrasi kita berdiri di persimpangan jalan. Ia bisa terus melaju di jalur oligarki, atau kembali ke jalannya yang sejati: amanah yang berwujud keadilan. Allah SWT menegaskan dalam QS. An-Nisa: 58, agar amanah disampaikan kepada yang berhak, dan setiap keputusan ditegakkan dengan adil.
Pertanyaannya, apakah kita masih merawat demokrasi sebagai ladang amanah yang menumbuhkan maslahat, atau membiarkannya layu menjadi ritual lima tahunan tanpa jiwa? Jika kita ingin bangsa ini berdiri tegak, jawabannya hanya satu: hidupkan demokrasi dengan keadilan, bukan dengan oligarki.
Artikel Terkait
Membangun Kesadaran Kritis sebagai Fondasi Pandangan Hidup Positif untuk Membangun Negeri
Mutiara Pagi: Hati yang Damai (Bagian 1959)
Purbaya Yudhi Sadewa, Pemimpin Perang Melawan Perampokan SDA
Peringatan Serangan Israel di Gaza City dan Perintah Evakuasi
Rujak Purbaya, Antara Celetukan Sederhana dan Perang Besar Melawan Kebocoran Ekonomi
Alfamart dan Zwitsal Hadirkan Layanan Sahabat Posyandu untuk Ibu dan Anak di 34 Kota
Mutiara Pagi: Menyulam Kata (Bagian 1960)
Sulitnya Menurunkan Harga Beras di Tengah Surplus Produksi
Fathan Mubarak, Impian Mengharumkan Nama Bangsa dengan Budaya
Kritik Terhadap Mazhab Sunni: Mengapa Fikih Tidak Kritis pada Penguasa?