Sulitnya Menurunkan Harga Beras di Tengah Surplus Produksi

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 11 September 2025 | 13:21 WIB
Mendag Pastikan Beras Premium Sudah Tersedia di Sebagian Ritel (Foto: Dok. Jakartadaily.id)
Mendag Pastikan Beras Premium Sudah Tersedia di Sebagian Ritel (Foto: Dok. Jakartadaily.id)

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA

Melejitnya harga beras di pasar, padahal data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi berlimpah, menimbulkan tanda tanya besar. Banyak pihak meragukan data tersebut karena logikanya, harga seharusnya stabil jika pasokan melimpah. Pemerintah sendiri menghadapi kesulitan kompleks dalam menstabilkan harga beras akibat berbagai faktor yang saling berkaitan.

Ada beberapa alasan utama mengapa harga beras sulit turun. Pertama, meskipun produksi nasional diklaim berlimpah, pasokan di lapangan mungkin terbatas akibat produksi yang tidak stabil, gangguan cuaca, atau masalah distribusi.

Kedua, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, membuat harga beras rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketiga, biaya produksi yang tinggi terutama harga pupuk dan biaya tenaga kerja secara langsung memengaruhi harga jual.

Keempat, distribusi yang tidak efektif, seperti infrastruktur yang tidak memadai atau biaya transportasi yang tinggi, dapat menyebabkan disparitas harga di berbagai daerah. Kelima, kebijakan pemerintah untuk mengendalikan harga beras mungkin belum sepenuhnya efektif dan memerlukan evaluasi serta perbaikan.

Di tengah tantangan ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memiliki keyakinan kuat bahwa harga beras akan segera turun. Ia menyatakan pemerintah tengah menggelar operasi pasar besar-besaran dengan menyiapkan 1,3 juta ton beras untuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga akhir tahun.

Operasi pasar ini, bersama dengan Gerakan Pangan Murah (GPM), diharapkan dapat menstabilkan harga dan membantu menurunkan harga di tingkat konsumen.

Meskipun demikian, sejumlah ekonom mempertanyakan efektivitas operasi pasar dan bantuan sosial. Distribusi bantuan sering kali tidak merata dan terhambat oleh birokrasi di tingkat daerah, sehingga tidak semua konsumen yang paling terdampak bisa terjangkau.

Dalam jangka panjang, pemerintah perlu fokus pada peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor. Deputi BPS Pudji Ismartini juga mencatat bahwa kenaikan harga terjadi di tingkat penggilingan, dengan harga beras medium dan premium sama-sama mengalami kenaikan.

Dengan berbagai tantangan ini, pertanyaan kritis pun muncul: apakah optimisme Mentan Amran bahwa harga beras akan turun dalam satu hingga dua minggu ke depan dapat terwujud? Masalah harga beras saat ini membutuhkan penanganan yang lebih cerdas dan profesional.

Amran meyakini operasi pasar dapat membantu dan berjanji akan menindak tegas produsen atau pengusaha yang curang. Ia juga mengajak para pelaku bisnis beras untuk menjalankan usaha yang tidak merugikan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X