Untuk menjembatani jarak antara idealisme dan realitas, media perlu menerapkan strategi konkret. Pertama, redaksi berbasis nilai, di mana setiap liputan dievaluasi bukan hanya dari sisi akurasi, tetapi juga dampak moralnya. Kedua, pelatihan etika narasi bagi wartawan, agar bahasa dan visual yang digunakan memuliakan martabat manusia. Ketiga, melibatkan publik dalam pengumpulan data dan kampanye sosial, sehingga fungsi media sebagai agen perubahan dapat diperkuat. Keempat, memanfaatkan teknologi seperti data journalism dan kecerdasan buatan untuk menyajikan informasi yang akurat dan mendalam tanpa mengorbankan kecepatan.
Krisis kepercayaan terhadap media adalah realitas global. Survei Edelman Trust Barometer (2024) menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap media arus utama di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, jurnalisme profetik justru menjadi diferensiasi strategis. Media yang memegang teguh nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik. Kepercayaan ini pada akhirnya menjadi modal sosial yang tak tergantikan.
Jurnalisme profetik mengingatkan kita bahwa media bukan hanya bisnis, tetapi juga amanah. Memang, realitas industri tidak bisa diabaikan, ada target pembaca, tekanan iklan, dan kompetisi yang ketat. Tetapi jika media menyerah sepenuhnya pada logika pasar, ia berisiko kehilangan jiwanya. Menghadirkan jurnalisme profetik berarti berani memilih jalan yang tidak selalu paling cepat atau paling populer, tetapi yang paling benar dan paling memanusiakan.
Seperti pepatah jurnalistik lama, news is what somebody doesn’t want you to print; everything else is advertising. Bedanya, jurnalisme profetik menambahkan dimensi baru: and it must be told with compassion and justice. Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menghapus jarak antara idealisme dan realitas, tetapi kita bisa mempersempitnya selangkah demi selangkah, liputan demi liputan hingga jurnalisme kembali menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar suara di tengah kebisingan digital. "Wallahu a'lam Bishawab". ***
Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Sekretaris LTN - PWNU Jawa Barat
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Di Balik Baju Perlente (Bagian 1929)
Lindungi Masa Depan Remaja, KKN 9 STAI Al-Azhary Cianjur Adakan Penyuluhan Bahaya Seks Bebas
Mutiara Pagi: Berkibarlah Benderaku (Bagian 1930)
Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa 2025 STIT Al-Azami Cianjur Digelar di Pagelaran
Gerak Jalan Warga RW 16 Cipadung Menuju Manglayang, Refleksi Menjelang HUT RI ke-80
Merdeka Secara Terdidik
80 Tahun Merdeka: BEM PTNU Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa, Ingatkan Kemerdekaan Harus Nyata
Alasan Joao Mota Mundur Menampar Wajah Danantara, Masih Dipercaya?
Warga Sambalado Tetap Semangat Rayakan Kemerdekaan Meski Indonesia Banyak Masalah
Mutiara Pagi: Negeri Ini Cemburu (Bagian 1931)