Jurnalisme Profetik, Antara Idealisme dan Realitas Industri

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Rabu, 13 Agustus 2025 | 09:14 WIB
Foto :  Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Sekretaris LTN - PWNU Jawa Barat.
Foto : Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Sekretaris LTN - PWNU Jawa Barat.

Untuk menjembatani jarak antara idealisme dan realitas, media perlu menerapkan strategi konkret. Pertama, redaksi berbasis nilai, di mana setiap liputan dievaluasi bukan hanya dari sisi akurasi, tetapi juga dampak moralnya. Kedua, pelatihan etika narasi bagi wartawan, agar bahasa dan visual yang digunakan memuliakan martabat manusia. Ketiga, melibatkan publik dalam pengumpulan data dan kampanye sosial, sehingga fungsi media sebagai agen perubahan dapat diperkuat. Keempat, memanfaatkan teknologi seperti data journalism dan kecerdasan buatan untuk menyajikan informasi yang akurat dan mendalam tanpa mengorbankan kecepatan.

Krisis kepercayaan terhadap media adalah realitas global. Survei Edelman Trust Barometer (2024) menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap media arus utama di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, jurnalisme profetik justru menjadi diferensiasi strategis. Media yang memegang teguh nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik. Kepercayaan ini pada akhirnya menjadi modal sosial yang tak tergantikan.

Jurnalisme profetik mengingatkan kita bahwa media bukan hanya bisnis, tetapi juga amanah. Memang, realitas industri tidak bisa diabaikan, ada target pembaca, tekanan iklan, dan kompetisi yang ketat. Tetapi jika media menyerah sepenuhnya pada logika pasar, ia berisiko kehilangan jiwanya. Menghadirkan jurnalisme profetik berarti berani memilih jalan yang tidak selalu paling cepat atau paling populer, tetapi yang paling benar dan paling memanusiakan.

Seperti pepatah jurnalistik lama, news is what somebody doesn’t want you to print; everything else is advertising. Bedanya, jurnalisme profetik menambahkan dimensi baru: and it must be told with compassion and justice. Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menghapus jarak antara idealisme dan realitas, tetapi kita bisa mempersempitnya selangkah demi selangkah, liputan demi liputan hingga jurnalisme kembali menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar suara di tengah kebisingan digital. "Wallahu a'lam Bishawab". ***

 

Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Sekretaris LTN - PWNU Jawa Barat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X