Berkibarlah, benderaku!
Di langit yang kadang keruh
Bukan karena badai,
tapi karena mereka yang alai
Selalu berteriak lantang
Merasa seperti pejuang
Menghitung cela, menebar caci
Seakan tanah ini hasil keringatnya sendiri
Tak jelas apa yang mereka mau
Kadang bicara perubahan
Tapi yang diciptakan kegaduhan
Tangannya tak pernah membangun
Tapi rajin menebar bisa dan racun
Kebaikan hatinya entah di mana
Hanya kata-kata pedas yang tersisa
Mereka menyebut negeri ini Konoha
Seolah panggung sandiwara belaka
Padahal hidupnya sendiri
Tak ada catatan yang berarti
Tak ada karya, yang bisa dibanggakan
Selain komentar bernuansa hinaan
Berkibarlah, benderaku!
Abaikan suara yang hanya pandai membelah,
namun tak pernah menyatukan
Biarlah mereka tenggelam dalam gema sendiri
Sementara engkau tetap berkibar di tiang tertinggi
Menatap masa depan yang hanya bisa lahir,
dari tangan yang mau bekerja dan berkarya
Bukan dari sejumlah bibir,
yang tak pernah berhenti mencela
Malang, 12 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Kado Seperempat Abad Unisla, Wakil Rektor Tulis Buku tentang Deep Learning
Meneladani KH Abdullah bin Nuh: 7 Prinsip Hidup untuk Umat dan Bangsa
Mutiara Pagi: Yang Diperebutkan (Bagian 1928)
HUT ke-27 IJTI, Herik Kurniawan Ajak Jurnalis Tegak Hadapi Disrupsi Media
KUA-PPAS Cianjur 2026 Jebol, Ada Potensi Pelanggaran Hukum dan Ingkari Janji Politik
Terkait Isu Penyelewengan Dana Hibah, Ketua KPAID Cianjur Siap di Audit
Rakorwil LP Ma'arif NU dan Pembaiatan Sako Pramuka Pandu Maarif NU Jabar, Ikrar Penguatan Kolaborasi Pendidikan dan Kepanduan
Taman Cerita Ceria KKN STAI Al Azhary Bangkitkan Semangat Literasi Anak Muda di Cibanteng
Mutiara Pagi: Di Balik Baju Perlente (Bagian 1929)
Lindungi Masa Depan Remaja, KKN 9 STAI Al-Azhary Cianjur Adakan Penyuluhan Bahaya Seks Bebas