Di balik baju perlente
Kata “rakyat” terdengar gagah
Seperti di poster kampanye
Kata “pengabdian” tertulis indah
Namun disimpan kembali
Setelah pesta itu usai
Janji pun dibungkus rapi
Seperti pedagang menutup kedai
Saat berdiri di mimbar kehormatan
Bajunya memantulkan cahaya kebesaran
Kemeja putih menjadi simbol kesucian
Padahal benangnya dibuat dari keringat penderitaan
Sehingga hatinya tetap kelam
Karena cahaya tak datang dari dalam
Uang negara dan rakyat yang digerogoti
Yang gajinya hanya cukup membeli segelas kopi
Seperti sinetron di layar kaca
Menayangkan citra yang sangat rapi
Di belakang layar, adegan sebenarnya
Adalah barter nurani dan harga diri
Kacamata yang berbingkai emas
Hanya hafal semua jalan menuju pesta
Tapi lupa janji-janji yang dikemas
Dan arah jalan menuju rakyat jelata
Malang, 11 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Menkeu Sri Mulyani Diragukan Kredibilitasnya, Dianggap Sekelas Lulusan SMP
Menanti Momongan, Menyulam Harapan di Setiap Doa
Kado Seperempat Abad Unisla, Wakil Rektor Tulis Buku tentang Deep Learning
Meneladani KH Abdullah bin Nuh: 7 Prinsip Hidup untuk Umat dan Bangsa
Mutiara Pagi: Yang Diperebutkan (Bagian 1928)
HUT ke-27 IJTI, Herik Kurniawan Ajak Jurnalis Tegak Hadapi Disrupsi Media
KUA-PPAS Cianjur 2026 Jebol, Ada Potensi Pelanggaran Hukum dan Ingkari Janji Politik
Terkait Isu Penyelewengan Dana Hibah, Ketua KPAID Cianjur Siap di Audit
Rakorwil LP Ma'arif NU dan Pembaiatan Sako Pramuka Pandu Maarif NU Jabar, Ikrar Penguatan Kolaborasi Pendidikan dan Kepanduan
Taman Cerita Ceria KKN STAI Al Azhary Bangkitkan Semangat Literasi Anak Muda di Cibanteng