Yang kita perdebatkan,
sering kali hanya angan-angan
Sambil menata lisan,
yang basah oleh kebohongan
Yang kita perebutkan,
sering kali hanya bayang-bayang
Berusaha dengan mati-matian
agar semua tak hilang
Ketika semua usai
Ternyata tak ada pemenang
Setelah semua selesai
Pikiran pun jadi tak tenang
Seperti menatap reruntuhan
Yang kita bangun sendiri
Yang tersisa kegelisahan
Berkecamuk di dalam hati
Yang kita perdebatkan,
hanyalah debu yang melayang
Yang kita perebutkan,
hanyalah kursi yang akan hilang
Ketika sorak terakhir padam
Lampu-lampu panggung dimatikan
Yang tersisa hanya dendam
Mencari cara untuk menjatuhkan
Malang, 10 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Kita Hanyalah Pelayar (Bagian 1926)
Quo Vadis Recht Staat
Jerat Pajak Makin Sadis, Indonesia Itu Pancasilais Atau Kapitalis?
Kelompok 7 KKN STAI Al-Azhary Desa Sindangsari Gelar Sosialisasi Program Kerja
Aktivis KOPRI PMII Cianjur Desak Evaluasi Total KPAI dan DP2KBP3A Terkait Dugaan Pelanggaran
Mutiara Pagi: Peta Hati (Bagian 1927)
Menkeu Sri Mulyani Diragukan Kredibilitasnya, Dianggap Sekelas Lulusan SMP
Menanti Momongan, Menyulam Harapan di Setiap Doa
Kado Seperempat Abad Unisla, Wakil Rektor Tulis Buku tentang Deep Learning
Meneladani KH Abdullah bin Nuh: 7 Prinsip Hidup untuk Umat dan Bangsa