Oleh:
Khoiruddin Muchtar
JournalNusantara/ Opini - Ketika arus informasi digital begitu deras, istilah jurnalisme profetik mungkin terdengar seperti oase di padang pasir. Sebuah konsep yang mengingatkan bahwa media bukan sekadar mesin penghasil berita, melainkan pengemban misi moral: menyuarakan kebenaran, menegakkan keadilan, dan memuliakan kemanusiaan. Namun, di balik pesona idealnya, kita harus jujur mengakuinya bahwa praktik jurnalisme di lapangan kerap terjebak dilema ke dalam realitas industri yang serba kompromi.
Seorang redaktur senior pernah berkata, “Pers seharusnya tidak hanya melaporkan, tetapi juga mendidik dan memimpin opini publik dengan tanggung jawab moral” (Anwar, Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, 2004). Pernyataan ini mengandung peringatan yang relevan: di era kecepatan dan algoritma, bagaimana jurnalisme bisa tetap setia pada nilai profetiknya?.
Istilah “profetik” berakar dari kata “prophet” atau nabi, yang dalam tradisi agama diartikan sebagai pembawa pesan ilahi. Dalam konteks media, jurnalisme profetik mengacu pada praktik jurnalistik yang mengedepankan tiga nilai utama, sebagaimana digagas Kuntowijoyo dalam Ilmu Sosial Profetik (1991): transendensi, liberasi, dan humanisasi. Transendensi mengajak media untuk menyajikan fakta secara jujur dengan kesadaran moral. Liberasi mendorong pembelaan terhadap mereka yang tertindas serta perlawanan terhadap ketidakadilan. Humanisasi mengingatkan media untuk menghormati martabat manusia, menghindari eksploitasi penderitaan, dan mengedepankan empati.
Baca Juga: Mutiara Pagi: Negeri Ini Cemburu (Bagian 1931)
Dalam teori komunikasi massa, media memiliki fungsi memberikan informasi, mendidik, menghibur, dan mengawasi (surveillance). Jurnalisme profetik menambahkan fungsi kelima: menuntun moral publik. Denis McQuail (2010) dalam Mass Communication Theory menegaskan bahwa media tidak pernah netral; ia selalu membawa nilai. Bedanya, jurnalisme profetik secara sadar memilih nilai yang membebaskan dan memanusiakan, bukan sekadar mengikuti tren pasar atau tekanan politik. Dengan perspektif ini, ruang redaksi seharusnya tidak hanya dipandu oleh data Google Analytics atau metrik keterbacaan, tetapi juga oleh pertanyaan: “Apakah berita ini membawa manfaat moral bagi pembaca?”.
Sayangnya, idealisme ini sering berbenturan dengan realitas industri. Kecepatan menjadi tuntutan utama di era ini. Persaingan membuat banyak media memilih menjadi yang pertama memberitakan ketimbang menjadi yang paling akurat. Dalam proses ini, verifikasi mendalam kerap terkorbankan, dan konteks moral berita hilang. Pada aspek yang lain, ekonomi mendorong media berlomba menciptakan judul sensasional atau clickbait demi menarik pembaca. Akibatnya, liputan yang mendalam namun tidak sensasional sering kalah pamor.
Baca Juga: Warga Sambalado Tetap Semangat Rayakan Kemerdekaan Meski Indonesia Banyak Masalah
Tantangan berikutnya adalah banjir hoaks dan polarisasi opini publik. Media arus utama sering terjebak menjadi “pemadam kebakaran” bagi informasi palsu, tanpa sempat membangun narasi yang mempersatukan masyarakat. Kondisi ini mengancam fungsi media sebagai ruang publik sehat, seperti yang diidealkan Jürgen Habermas (1989) dalam konsep public sphere.
Meski demikian, jurnalisme profetik bukanlah utopia yang mustahil diwujudkan. Sejumlah praktik di lapangan membuktikan bahwa media bisa menjalankan nilai moral sambil bertahan secara ekonomi. Liputan investigatif yang mengungkap korupsi atau pelanggaran HAM, seperti yang dilakukan majalah Tempo adalah contoh nyata. Demikian pula The Guardian dengan kampanye iklim “Keep it in the Ground” yang tidak hanya menginformasikan, tetapi juga mengajak pembaca bertindak.
Baca Juga: Gerak Jalan Warga RW 16 Cipadung Menuju Manglayang, Refleksi Menjelang HUT RI ke-80
Di Indonesia, beberapa media telah mempraktikkan feature human interest yang memuliakan korban bencana, alih-alih sekadar menampilkan angka kematian. Liputan semacam ini bukan hanya memberi informasi, tetapi juga membangun empati sosial. Seperti yang diingatkan Kovach & Rosenstiel (2014) dalam The Elements of Journalism, berita yang baik tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memberi makna dan relevansi bagi kehidupan pembaca.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Di Balik Baju Perlente (Bagian 1929)
Lindungi Masa Depan Remaja, KKN 9 STAI Al-Azhary Cianjur Adakan Penyuluhan Bahaya Seks Bebas
Mutiara Pagi: Berkibarlah Benderaku (Bagian 1930)
Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa 2025 STIT Al-Azami Cianjur Digelar di Pagelaran
Gerak Jalan Warga RW 16 Cipadung Menuju Manglayang, Refleksi Menjelang HUT RI ke-80
Merdeka Secara Terdidik
80 Tahun Merdeka: BEM PTNU Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa, Ingatkan Kemerdekaan Harus Nyata
Alasan Joao Mota Mundur Menampar Wajah Danantara, Masih Dipercaya?
Warga Sambalado Tetap Semangat Rayakan Kemerdekaan Meski Indonesia Banyak Masalah
Mutiara Pagi: Negeri Ini Cemburu (Bagian 1931)