Puan menyampaikan agar kader PDIP bisa dan mau masuk dalam kabinet. Sementara Prananda tidak setuju. Statemen Puan itu sangat kebetulan sekali (ingat, dalam politik tidak ada yang kebetulan), berbarengan atau dalam waktu yang tidak jauh dengan kabar Gibran diberi tugas Prabowo mengurus Papua, hingga harus berkantor di sana.
Ini seperti istana mencampakkan pengaruh Jokowi sementara membuka pintu kepada pesaing Jokowi (PDIP). Namun apakah PDIP benar akan bergabung dalam kabinet Prabowo? Ataukah hanya sedikit memberi warning kepada Jokowi agar tidak terlalu ambisius dalam pemerintahan Prabowo? Karena bagaimanapun PDIP masih dibutuhkan sebagai kekuatan oposan.
Hanya PDIP menjadi satu-satunya partai di luar pemerintahan. Satu-satunya partai yang berani kritis tanpa sungkan karena tidak punya beban kursi di kabinet. Beda dengan PKS dan Nasdem yang mengaku kritis tapi tidak tegas dan lugas karena sungkan. Perhelatan catur memang belum berakhir bahkan jauh dari selesai namun fakta-fakta tidak dapat dinafikan begitu saja.
Artikel Terkait
Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa Resmi Dilantik sebagai Mudir ‘Aly JATMAN 2025–2030
Membangun Peradaban Tanpa Kerusakan: Tadabbur Pendidikan dari QS Al-A‘rāf Ayat 56
Ijazah Jokowi Asli Apa Palsu? Atau Asli Tapi Palsu?
Hidup Tenang di Tengah Badai, Seni Menemukan Damai Meski Banyak Masalah
Mutiara Pagi: Berebut Benar (Bagian 1898)
Polemik Dirut Perumdam Tirta Mukti Cianjur, Poslogis Surati Bupati dan Kemendagri
Pendidikan Unggul
Gubernur KDM Harus Turun Tangan atas Tindakan Kontroversial Kadiskop Jabar
Jejak Sejarah Cianjur dari Kadipaten Hingga Menjadi Kota Santri dan Pangan
Mutiara Pagi: Suara yang Jujur (Bagian 1899)