Manusia berebut benar di jalan-Nya,
Mereka berseru atas nama-Nya,
Namun lidahnya menghunus luka,
Sikapnya tak menunduk pada kasih-Nya
Kebenaran seolah-olah milik mereka,
yang paling keras suaranya
Yang paling sering menghina,
dan paling lihai membuka aib saudaranya
Ya Rabb
Apa gunanya benar,
bila tak menyisakan ruang untuk kebaikan?
Apa makna benar,
bila membuat kita menjauh dari persaudaraan?
Hamba tak ingin benar,
yang menjauhkan dari manfaat
Hamba rindu benar,
yang Kau isi dengan rahmat
Ajari kami, ya Rabb,
Bahwa kebenaran yang tak dibasuh kasih,
Adalah bara yang membakar bukan menerangi
Bahwa lidah yang tak mengenal kasih,
Akan membuat ruh buta arah pulang kembali
Hamba tak ingin menjadi hakim bagi sesama,
Cukuplah menjadi hamba yang berguna
Bukan berebut benar,
tanpa menyisakan ruang untuk kebaikan
Bukan merasa paling benar,
yang selalu butuh pengakuan
Malang, 11 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Pererat Hubungan, Presiden Prabowo Gelar Lawatan Kenegaraan ke Brasilia
Mutiara Pagi: Pulau Seribu Masjid (Bagian 1896)
PP-MKP Sowan ke Ketua MPR-RI, Bahas Kolaborasi Strategis untuk Penguatan Nilai Pancasila
LKNU Cianjur Salurkan Bantuan Alat Bantu Aksesibilitas untuk Penyandang Disabilitas
Diresmikan Pimpinan Wilayah, Berikut Susunan Pengurus IPNU dan IPPNU Cianjur Masa Khidmat 2025–2027
Mutiara Pagi: Sendiri di Pojok Mushalla (Bagian 1897)
Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa Resmi Dilantik sebagai Mudir ‘Aly JATMAN 2025–2030
Membangun Peradaban Tanpa Kerusakan: Tadabbur Pendidikan dari QS Al-A‘rāf Ayat 56
Ijazah Jokowi Asli Apa Palsu? Atau Asli Tapi Palsu?
Hidup Tenang di Tengah Badai, Seni Menemukan Damai Meski Banyak Masalah