Dari menara-menara
Ada doa yang tak letih mencari langit
Dari kejauhan
Gunung Rinjani tegak berselimut kabut
Seperti seorang ibu yang menyimpan rahasia
tentang gempa, tangis, dan kesabaran
Pulau ini tak pernah marah, hanya diam
Aku menatap laut yang selalu setia
dengan kapal-kapal kecil
dan harapan yang bersujud di antara karang
Aku mencoba meneguk keteduhan
dari bayang-bayang menara
yang berdiri di setiap sudut kampung
Dahaga ini makin meresap
dalam kerinduan akan rumah Tuhan
yang satu dan tak terbagi
Melihat bumi
tak ubahnya seperti sajadah tua
yang sudah ribuan kali basah oleh air mata
Tapi tak hancur
karena iman bersarang di dalam dada
Pulau ini tak hanya indah
tapi juga ikhlas
Tak hanya penuh masjid
tapi juga penuh keramahan
dari orang-orang kecil
yang bersyukur dalam diam
dan ikhtiar tak pernah padam
Mataram, 9 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Ledakan Bom Ketiga: Kisah Penghormatan Jepang kepada Mohammad Natsir yang Terlupakan
Mengenang Sejarah Hari Asyura
Indonesia Adalah Outlier dalam Peta Global Pendidikan Guru
Mutiara Pagi: Keinginan (Bagian 1894)
Kolaborasi DEMA dan Disbudpar: Duta Kampus Lahir di Padi Pandanwangi
Rahasia Ketenangan yang Hilang di Tengah Kesibukan
Mutiara Pagi: Di Sudut Bandara (Bagian 1895)
Tabir Kematian Brigadir Nurhadi Terkuak, Poligraf Ungkap Kebohongan 2 Perwira Polri
PCNU Cianjur Gelar Sosialisasi Produk Halal, Launching LP3H, dan Bimtek Pendamping Halal Bersama BPJPH RI
BEM PTNU Soroti Putusan MK soal Pemisahan Pemilu, Ancaman Disintegrasi dan Tantangan Demokrasi Konstitusional