Di sudut bandara
Seorang ibu memeluk anaknya
dengan mata yang berair dan bibir gemetar
Namun sempat berkata:
“Jangan terlalu lama menjadi asing, Nak...”
Di layar pengumuman
Waktu hanyalah angka-angka
Tapi baginya adalah jeda
Antara penantian dan kepergian
Aku merenung sejenak
menghirup aroma asing
Kopi, parfum mahal, dan udara sekitar
Semuanya terasa akrab
Meski hanya sekejap
Di luar, langit bercahaya
Meninggalkan jejak kelam
di dada malam
Aku ingin
Menuliskan puisi pada kaca jendela
yang berembun oleh napas sendiri
tentang kepergian yang begitu indah
dan kepulangan yang entah berapa lama
Di sudut bandara
Aku pun bertanya-tanya
Negeri ini begitu indah
tapi mengapa,
yang menikmati hanya mereka
Lombok Praya, 8 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Ajaran Yahudi: Di antara Monoteisme Ketat dan Etnosentrisme Teologis
LRT Jakarta Fase 1B: Progres Pesat, Konektivitas Jakarta Kian Terwujud!
Tuntas Semester 2 Doktoral MPI, Fondasi Inovasi dan Akselerasi Pendidikan Berbasis Digital
RAT KSU YAHATI: “Koperasi Kuat, Anggota Sejahtera”
Ledakan Bom Ketiga: Kisah Penghormatan Jepang kepada Mohammad Natsir yang Terlupakan
Mengenang Sejarah Hari Asyura
Indonesia Adalah Outlier dalam Peta Global Pendidikan Guru
Mutiara Pagi: Keinginan (Bagian 1894)
Kolaborasi DEMA dan Disbudpar: Duta Kampus Lahir di Padi Pandanwangi
Rahasia Ketenangan yang Hilang di Tengah Kesibukan