Ode buat Laura Amandasari
Ia bukan sekadar simbol keberagaman
tetapi juga simbol kebersamaan
Toleransi bukan sekadar slogan
tetapi pondasi membangun peradaban
Barangkali bukan soal beasiswa,
bukan pula siapa dia
tapi tentang keberanian
dalam menyulam masa depan
Pantunnya jatuh perlahan
di tengah bening keberagaman
Seperti indahnya pelangi
yang tak pernah ditolak bumi
Rektor pun mendengar,
suaranya yang sedikit gemetar
Menteri pun memerhatikan
agar permintaanya bisa dikabulkan
Kisah Laura
telah mengajarkan kita
bahwa mimpi tak pernah memilih agama
bahwa suara yang jujur
selalu menemukan jalannya
ke hati manusia
Seperti angin dari laut
Membawa garam dan kabar rindu
Ia datang ketika hati kalut
Ibarat doa pelan-pelan mulai menyatu
Malang, 12 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Sendiri di Pojok Mushalla (Bagian 1897)
Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa Resmi Dilantik sebagai Mudir ‘Aly JATMAN 2025–2030
Membangun Peradaban Tanpa Kerusakan: Tadabbur Pendidikan dari QS Al-A‘rāf Ayat 56
Ijazah Jokowi Asli Apa Palsu? Atau Asli Tapi Palsu?
Hidup Tenang di Tengah Badai, Seni Menemukan Damai Meski Banyak Masalah
Mutiara Pagi: Berebut Benar (Bagian 1898)
Polemik Dirut Perumdam Tirta Mukti Cianjur, Poslogis Surati Bupati dan Kemendagri
Pendidikan Unggul
Gubernur KDM Harus Turun Tangan atas Tindakan Kontroversial Kadiskop Jabar
Jejak Sejarah Cianjur dari Kadipaten Hingga Menjadi Kota Santri dan Pangan