Oleh: Agung Wibawanto
Prabowo sebagai seorang murid sepertinya cepat menangkap bahkan mempraktikkan gaya gurunya, yakni Jokowi. Sebelumnya, Prabowo dikenal sebagai individu yang blak-blakan dan apa adanya. Gak ada kamus dalam hidupnya basa-basi. Gak ada rumus sen kiri belok kanan.
Mantan Dan Kopasus, ia terlatih tegas dan strike. Berbeda sekali dengan "gurunya" ataupun senior nya, Jokowi. Jokowi dikenal kebalikannya Prabowo. Jokowi lihai bersandiwara agar orang tidak mengetahui apa inginnya yang sesungguhnya. Antara kepala dengan ucapan dan sikap bisa berbeda, demi ambisi tercapai.
Ia bahkan bersedia merendahkan dirinya demi sebuah citra. Terlalu banyak basa-basi bahkan dikenal apa yang diucapkan adalah kebalikannya. Jadi, jangan dengar yang tersurat tapi lihat yang tersirat. Jokowi suka menggunakan simbol-simbol atau tanda-tanda yang itu artinya tidak eksplisit (tidak langsung).
Kini, gaya yang sama dilakukan Prabowo mungkin ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah mampu menyerap ilmu. Dulu Jokowi dikenal sebagai raja catur tapi kini Prabowo lebih unggul. Dalam penglihatan publik, kini Jokowi lah yang menjadi salah satu caturnya Prabowo. Tapi tentu asumsi ini akan dibantah Projo dan para fans Jokowi.
Bagi mereka, separah apapun kondisinya saat ini, Jokowi tetaplah the best. Tetaplah suci bahkan bisa disamakan dengan nabi. Tidak ada salahnya dan pasti benarnya. Mereka menafikan, bagaimana seorang mantan presiden tidak mendapat fasilitas kesehatan terbaik, meski hanya urusan alergi kulit? Di mana tim dokter negara?
Haruskah Jokowi terlunta-lunta mengurus pemulihan kesehatannya sendiri? Pemuja tetap mengatakan, itulah Jokowi yang tanpa pamrih tidak menuntut macam-macam pada negara. Ya itu terserah penilaian mereka namun publik melihat ini masih ranah politik dan kehidupan mantan presiden sekalipun itu diatur dalam UU (hak fasilitas dan protokoler yang didapatnya).
Artinya apa? Sepertinya Prabowo sudah tidak mau tahu lagi Jokowi mau ngapain. Presiden Prabowo mestinya memerintahkan tim dokter memeriksa serta memberi layanan perawatan kelas satu bagi Jokowi. Atau setidaknya datang menjenguk, setidaknya lagi ada berita Prabowo menyapa Jokowi via telpon menanyakan kondisi kesehatannya.
Sebatas Prabowo menerima semua menteri titipan Jokowi (termasuk anaknya), baginya sudah cukup ia memberi keistimewaan Jokowi. Bahkan belakangan Prabowo semakin berani membuat "kode alam" mengurangi kekuasaan Jokowi dalam pemerintahannya. Diantaranya, tidak melibatkan Gibran dalam rapat pengambilan kebijakan penting.
Juga tidak mengajak wapres Gibran ikut dalam acara-acara kenegaraan. Sangat jarang sekali presiden dan wapresnya terlibat dalam satu frame kegiatan, apalagi berbincang serius empat mata. Prabowo malah terciduk lebih sering didampingi Letkol Teddy. Belum lagi menteri titipan Jokowi terlihat banyak melakukan blunder.
Tampaknya seperti sengaja dibiarkan berbuat blunder kemudian presiden akan muncul memperbaiki. Ada Erik Thohir beberapa kali mengangkat orang untuk jabatan di BUMN namun kerap pula salah orang. Bahlil hingga beberapa kali lakukan kesalahan yang paling viral soal gas LPG dan tambang nikel di Raja Ampat.
Ada pula Tito Karnavian yang blunder soal 4 pulau di Aceh berpindah tangan menjadi wilayah Sumut. Seolah ingin menunjukkan betapa bodohnya menteri titipan itu. Biar saja Bahlil mengoceh macam-macam selama kekuasaan utama ada di presiden mau apa? Begitupun Luhut yang makin kurang berperan.
Sementara Sri Mulyani dan Listyo Sigit sepertinya sudah mulai bisa dijinakkan dan kini jauh lebih berpihak ke Prabowo. Mengapa Prabowo punya keinginan mengurangi peran dan kekuasaan Jokowi dalam pemerintahannya? Sudah jelas ia ingin menunjukkan siapa matahari sesungguhnya. Selan itu juga agar ada keseimbangan.
Secara politis ia butuh banyak dukungan, jika mungkin semua pihak mendukung pemerintahannya. Termasuk ia butuh PDIP yang Prabowo tahu ini resiko terhadap hubungannya dengan Jokowi. Ia tahu pula Jokowi tidak akan suka jika PDIP masuk dalam jajaran kabinetnya. Justru itu yang dimaui Prabowo.
Ia butuh kekuatan penyeimbang sehingga Prabowo tidak merasa memikul beban balas budi lagi. Di satu sisi, PDIP juga pasti tidak terlalu suka jika Jokowi masih terus ikut cawe-cawe dalam pemerintahan sekarang, sementara Jokowi sudah pensiun. PDIP bisa saja masuk dalam kabinet Prabowo, seperti yang diungkapkan Puan Maharani.
Artikel Terkait
Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa Resmi Dilantik sebagai Mudir ‘Aly JATMAN 2025–2030
Membangun Peradaban Tanpa Kerusakan: Tadabbur Pendidikan dari QS Al-A‘rāf Ayat 56
Ijazah Jokowi Asli Apa Palsu? Atau Asli Tapi Palsu?
Hidup Tenang di Tengah Badai, Seni Menemukan Damai Meski Banyak Masalah
Mutiara Pagi: Berebut Benar (Bagian 1898)
Polemik Dirut Perumdam Tirta Mukti Cianjur, Poslogis Surati Bupati dan Kemendagri
Pendidikan Unggul
Gubernur KDM Harus Turun Tangan atas Tindakan Kontroversial Kadiskop Jabar
Jejak Sejarah Cianjur dari Kadipaten Hingga Menjadi Kota Santri dan Pangan
Mutiara Pagi: Suara yang Jujur (Bagian 1899)