Oleh: Yus Dharman, SH., MM., M.Kn.
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Jakarta, 10 Juli 2025
Perdebatan mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo tampaknya tidak pernah usai. Isu ini terus berputar di ruang-ruang media sosial, dibahas berulang-ulang di berbagai podcast, dan menjadi konten yang terus diulang. Isinya pun hampir sama: soal apakah ijazah itu asli, palsu, atau bahkan "asli tapi palsu".
Ironisnya, yang menyebut ijazah itu asli, sebagian besar belum pernah melihat dokumen aslinya. Sementara yang menyatakan palsu, tentu juga tidak pernah membuktikan secara langsung.
Keduanya bersahut-sahutan seperti kicauan burung di pasar. Sampai kapan kegaduhan ini akan terus digaungkan? Apakah kita benar-benar kekurangan isu penting lain untuk dibahas?
Seharusnya, perdebatan semacam ini tidak perlu terjadi bila sejak awal kita meneliti rekam jejak calon pemimpin sebelum diusung. Seorang pemimpin seharusnya memiliki kualitas dasar jujur, bertanggung jawab, informatif, dan cerdas. Bukan sekadar berani membayar.
Fenomena ini adalah konsekuensi dari sistem politik yang membuka ruang bagi jual beli jabatan. Ketika kekuasaan diperebutkan dengan uang, maka strategi dua wajah (two faces) alias kepura-puraan dan pencitraan menjadi hal yang lumrah.
Saya tidak sedang membela Pak Jokowi. Saya bukan kuasa hukumnya. Namun, ketika beliau menjawab pertanyaan wartawan soal progres pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan pernyataan, "Sudah tapi belum," itu adalah bentuk kejujuran yang langka polos dan apa adanya.
Apakah itu bentuk dua muka dalam berpolitik? Mungkin. Tapi setidaknya, ia berani menunjukkan sisi manusianya.
Kita perlu jujur mengakui: Jokowi adalah cerminan karakter masyarakat yang memilihnya. Jika kita tidak ingin pengalaman serupa terulang, maka kita harus berubah.
Bangsa ini butuh pemimpin yang berkualitas dan berintegritas dan itu hanya bisa terwujud jika rakyatnya juga menjunjung nilai-nilai luhur: kejujuran, integritas, loyalitas, kerja keras, dan menjauhi politik uang.
Biarlah frasa “sudah tapi belum” atau “asli tapi palsu” menjadi catatan sejarah. Sebuah pelajaran kolektif agar partai politik tidak sembarangan dalam mengusung bakal calon pemimpin bangsa.
Plato pernah berkata, etika adalah moral yang didasarkan pada pengetahuan yang dicapai dan dimiliki manusia melalui akal budi. Maka, jangan pernah berharap orang yang merebut kekuasaan dengan cara curang akan bisa berlaku jujur dan adil saat memimpin.
Perlu kita camkan bersama: setiap kebohongan yang terus diviralkan, lama-kelamaan akan dianggap kebenaran meskipun hanya sementara. Jika kita biarkan, kehancuran akan datang. Mungkin lidah dapat mengelak, namun jejak digital tidak bisa dihapus.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Di Sudut Bandara (Bagian 1895)
Pererat Hubungan, Presiden Prabowo Gelar Lawatan Kenegaraan ke Brasilia
Tabir Kematian Brigadir Nurhadi Terkuak, Poligraf Ungkap Kebohongan 2 Perwira Polri
PCNU Cianjur Gelar Sosialisasi Produk Halal, Launching LP3H, dan Bimtek Pendamping Halal Bersama BPJPH RI
BEM PTNU Soroti Putusan MK soal Pemisahan Pemilu, Ancaman Disintegrasi dan Tantangan Demokrasi Konstitusional
Mutiara Pagi: Pulau Seribu Masjid (Bagian 1896)
PP-MKP Sowan ke Ketua MPR-RI, Bahas Kolaborasi Strategis untuk Penguatan Nilai Pancasila
LKNU Cianjur Salurkan Bantuan Alat Bantu Aksesibilitas untuk Penyandang Disabilitas
Diresmikan Pimpinan Wilayah, Berikut Susunan Pengurus IPNU dan IPPNU Cianjur Masa Khidmat 2025–2027
Mutiara Pagi: Sendiri di Pojok Mushalla (Bagian 1897)