Apakah kita akan membiarkan Bojongmenje menjadi “prasasti kematian” kebudayaan Sunda? Atau kita memilih untuk merestorasi, mengedukasi, dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan kontemporer? Pilihannya bukan di tangan candi, tapi di tangan kita.
Sebab sebagaimana diungkapkan arkeolog Peter R. Schmidt: “Heritage is not just what is preserved, but what is remembered and practiced.”
Jika Bojongmenje dilupakan, maka itu bukan salah batu. Itu adalah kegagalan kolektif manusia yang kehilangan memori dan martabatnya sendiri.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Beruang (Bagian 1852)
Mobilitas Tinggi Gubernur Jatim: Perkuat Pertahanan, Investasi, hingga Kesejahteraan Masyarakat
Senin Ceria, Awal Pekan Penuh Energi Positif
Oase Teduh, Rumah Idaman yang Memeluk Kesejukan
Memimpin dengan Hati dan Strategi, Kunci Organisasi Berjaya
Hibah APBD untuk Siapa?
Lamongan Setelah 456 Tahun
Mutiara Pagi: Menepi Sejenak (Bagian 1853)
Sejarah sebagai Pedoman, Menulis untuk Bangsa dan Pendidikan Masa Depan
Gowok dan Kamasutra Jawa: Seksualitas, Spiritualitas, dan Estetika Tubuh dalam Kebudayaan Jawa Klasik