Oleh: MJ.Wijaya
Di tengah riuhnya Bandung sebagai kota mode dan teknologi, terdapat sebuah jejak senyap yang dikhianati waktu dan dilupakan oleh pemerintah: Situs Bojongmenje. Candi yang berdiri anggun di kaki Gunung Geulis, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung ini bukan sekadar tumpukan batu tua—ia adalah saksi bisu kelahiran spiritualitas Hindu tertua di tanah Sunda, bahkan di Jawa Barat.
Namun, apa yang terjadi hari ini? Situs bersejarah yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi itu justru dipinggirkan dari peradaban. Dikelilingi kawasan industri dan pemukiman padat, Bojongmenje kini terjebak dalam ironi sejarah: berdiri sebagai candi tertua, namun diperlakukan seperti bangkai tak bernilai.
Kekayaan Arkeologis yang Dibuang seperti Sampah
Penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung pada awal 2000-an menunjukkan bahwa Candi Bojongmenje terbuat dari batu andesit dengan struktur dasar yang khas peninggalan Hindu klasik. Arkeolog Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa candi ini kemungkinan besar menjadi penanda awal persebaran Hindu di wilayah tatar Sunda. Namun setelah dua dekade berlalu, candi ini tidak mengalami revitalisasi berarti. Bahkan papan informasinya pun lusuh, tak terawat.
Pada tahun 2023, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat mencatat bahwa kunjungan ke situs ini tidak pernah mencapai angka 1.000 pengunjung per tahun.
Anggaran pelestariannya pun tak masuk lima besar prioritas. Sementara itu, ratusan miliar digelontorkan untuk festival-festival pariwisata instan yang hanya memproduksi euforia sesaat dan sampah plastik.
Jika Candi Ini di Jepang, Sudah Jadi Warisan Dunia
Bayangkan jika Bojongmenje berada di Jepang atau India. Ia akan diperlakukan seperti harta karun peradaban, dilindungi UNESCO, dijadikan pusat penelitian, dan disulap menjadi destinasi budaya kelas dunia. Tapi di sini? Ia hanya jadi objek selfie sporadis dan bahan laporan tahunan tanpa komitmen nyata.
Sejarawan Anhar Gonggong pernah menyindir keras: “Bangsa yang tidak menghargai peninggalan masa lalu tidak hanya kehilangan sejarahnya, tapi juga masa depannya.” Pernyataan ini cocok untuk menggambarkan sikap negara dan masyarakat kita terhadap Bojongmenje—pengabaian sistematis yang mengindikasikan hilangnya nalar historis dan estetika kebudayaan.
Bojongmenje, Bayang-Bayang Takdir yang Kita Ciptakan Sendiri
Situs ini sesungguhnya adalah peringatan keras: bahwa kita sedang tergelincir dalam formalisme sejarah. Kita rajin memperingati Hari Pahlawan, Hari Kebudayaan, dan Hari Arkeologi Nasional, namun abai merawat artefak nyata. Kita lebih senang merayakan masa lalu di atas panggung, ketimbang menapaki tanah tempat sejarah itu benar-benar hidup.
Bojongmenje bukan hanya tentang candi tua; ia adalah ujian apakah kita masih memiliki integritas budaya. Saat industri merangsek hingga ke bibir situs, saat birokrasi lebih sibuk menggagas tiktok pariwisata ketimbang menyusun grand design pelestarian, maka tak ada lagi yang bisa kita banggakan kecuali kepalsuan.
Lestarikan atau Tinggalkan Sejarah, Pilihannya Ada di Kita
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Beruang (Bagian 1852)
Mobilitas Tinggi Gubernur Jatim: Perkuat Pertahanan, Investasi, hingga Kesejahteraan Masyarakat
Senin Ceria, Awal Pekan Penuh Energi Positif
Oase Teduh, Rumah Idaman yang Memeluk Kesejukan
Memimpin dengan Hati dan Strategi, Kunci Organisasi Berjaya
Hibah APBD untuk Siapa?
Lamongan Setelah 456 Tahun
Mutiara Pagi: Menepi Sejenak (Bagian 1853)
Sejarah sebagai Pedoman, Menulis untuk Bangsa dan Pendidikan Masa Depan
Gowok dan Kamasutra Jawa: Seksualitas, Spiritualitas, dan Estetika Tubuh dalam Kebudayaan Jawa Klasik