Situs Bojongmenje, Candi Tertua Jawa Barat yang Dibiarkan Menjadi Debu Modernitas

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 27 Mei 2025 | 21:00 WIB
Batu-batu reruntuhan Candi Bojongmenje yang sedang dalam proses perekaan mengenai bentuk dan letak aslinya pada 2005
Batu-batu reruntuhan Candi Bojongmenje yang sedang dalam proses perekaan mengenai bentuk dan letak aslinya pada 2005

Oleh: MJ.Wijaya

Di tengah riuhnya Bandung sebagai kota mode dan teknologi, terdapat sebuah jejak senyap yang dikhianati waktu dan dilupakan oleh pemerintah: Situs Bojongmenje. Candi yang berdiri anggun di kaki Gunung Geulis, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung ini bukan sekadar tumpukan batu tua—ia adalah saksi bisu kelahiran spiritualitas Hindu tertua di tanah Sunda, bahkan di Jawa Barat.

Namun, apa yang terjadi hari ini? Situs bersejarah yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi itu justru dipinggirkan dari peradaban. Dikelilingi kawasan industri dan pemukiman padat, Bojongmenje kini terjebak dalam ironi sejarah: berdiri sebagai candi tertua, namun diperlakukan seperti bangkai tak bernilai.

Kekayaan Arkeologis yang Dibuang seperti Sampah

Penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung pada awal 2000-an menunjukkan bahwa Candi Bojongmenje terbuat dari batu andesit dengan struktur dasar yang khas peninggalan Hindu klasik. Arkeolog Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa candi ini kemungkinan besar menjadi penanda awal persebaran Hindu di wilayah tatar Sunda. Namun setelah dua dekade berlalu, candi ini tidak mengalami revitalisasi berarti. Bahkan papan informasinya pun lusuh, tak terawat.

Pada tahun 2023, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat mencatat bahwa kunjungan ke situs ini tidak pernah mencapai angka 1.000 pengunjung per tahun.

Anggaran pelestariannya pun tak masuk lima besar prioritas. Sementara itu, ratusan miliar digelontorkan untuk festival-festival pariwisata instan yang hanya memproduksi euforia sesaat dan sampah plastik.

Jika Candi Ini di Jepang, Sudah Jadi Warisan Dunia

Bayangkan jika Bojongmenje berada di Jepang atau India. Ia akan diperlakukan seperti harta karun peradaban, dilindungi UNESCO, dijadikan pusat penelitian, dan disulap menjadi destinasi budaya kelas dunia. Tapi di sini? Ia hanya jadi objek selfie sporadis dan bahan laporan tahunan tanpa komitmen nyata.

Sejarawan Anhar Gonggong pernah menyindir keras: “Bangsa yang tidak menghargai peninggalan masa lalu tidak hanya kehilangan sejarahnya, tapi juga masa depannya.” Pernyataan ini cocok untuk menggambarkan sikap negara dan masyarakat kita terhadap Bojongmenje—pengabaian sistematis yang mengindikasikan hilangnya nalar historis dan estetika kebudayaan.

Bojongmenje, Bayang-Bayang Takdir yang Kita Ciptakan Sendiri

Situs ini sesungguhnya adalah peringatan keras: bahwa kita sedang tergelincir dalam formalisme sejarah. Kita rajin memperingati Hari Pahlawan, Hari Kebudayaan, dan Hari Arkeologi Nasional, namun abai merawat artefak nyata. Kita lebih senang merayakan masa lalu di atas panggung, ketimbang menapaki tanah tempat sejarah itu benar-benar hidup.

Bojongmenje bukan hanya tentang candi tua; ia adalah ujian apakah kita masih memiliki integritas budaya. Saat industri merangsek hingga ke bibir situs, saat birokrasi lebih sibuk menggagas tiktok pariwisata ketimbang menyusun grand design pelestarian, maka tak ada lagi yang bisa kita banggakan kecuali kepalsuan.

Lestarikan atau Tinggalkan Sejarah, Pilihannya Ada di Kita

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X