Membaca dalam konsep anak tetap lebih kepada hiburan seperti membaca buku cerita, ensiiklopedi dll. Anak dipaksa membaca buku pelajaran berulang-ulang, mungkin mereka akan hafal tapi tidak mengerti substansinya. Contoh lain, buku pelajaran PKN memberi materi Pancasila tapi praktiknya di masyarakat tidak seperti itu.
Hal ini pasti membuat siswa bisa bingung mana yang benar? Begitu juga dengan berhitung yang belajar melalui mengenal angka akan berbeda jika dipraktikkan langsung si anak belanja di warung, misalnya. Tentu kita sebagai orang dewasa termasuk pendidik harus lebih bijak menerapkan metode belajar yang tepat.
Artikel Terkait
Menemukan Kedamaian dalam Kesederhanaan: Kunci Hidup Tenang
Menjelang Harkopnas dan HJC ke-378, Ketua Terpilih Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Kejutan
Mutiara Pagi: Sibuk Melabeli (Bagian 1850)
Premanisme Birokrasi: Ancaman yang Lebih Berbahaya
Ijazah Gratis, Pesantren Bangkrut
Melampaui Persaingan, Merajut Kemajuan Lewat Kolaborasi
Aktivis PMII Menolak Tegas Penulisan Ulang Sejarah Penjajahan Bangsa Indonesia
Teleperformance Dorong Inovasi Digital Lewat Peluncuran Persona AI dan Kantor Baru di Jakarta
Mutiara Pagi: Eling lan Waspada (Bagian 1851)
Secondhand Smoke Bikin Galau