Kita hidup di suatu zaman
Di mana komentar lebih cepat dari zikir
Saling menilai segala bentuk penampilan
Lalu menyebarkannya tanpa perlu dipikir
Eling, pada asal dan tujuan hidup
Waspada, akan jebakan dalam hidup
Jangan sampai, kita hanya sibuk eling
Terhadap kesuksesan orang lain
Kemudian terlalu sibuk waspada
Terhadap keberhasilan orang lain
Yang dibungkus dengan iri
Dirapikan dengan keprihatinan
Kemudian berpura-pura berempati
Agar tak tampak sebagai kedengkian
Yang diasah bukan akal, tapi asumsi
Yang dijaga bukan prinsip, tapi persepsi
Rajin jadi juru hitung masalah orang lain
Sibuk mencari kejelekan orang lain
Seolah-olah menjadi kepedulian sosial
Ketertarikan terhadap masalah yang ada
Kesalahan apa pun dibuat viral
Dengan tujuan untuk menjatuhkannya
Padahal Tuhan telah memperingatkaan
Bahwa ghibah termasuk perilaku setan
Tapi masih saja dijadikan menu harian
Kejelekan orang lain selalu dibicarakan
Malang, 25 Mei 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Menemukan Kedamaian dalam Kesederhanaan: Kunci Hidup Tenang
Hari Jumat dalam Sejarah Nabi Muhammad: Hari Istimewa Umat Islam
Menghijaukan Pekarangan Rumah: Langkah Mudah Ciptakan Lingkungan Asri
Menjelang Harkopnas dan HJC ke-378, Ketua Terpilih Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Kejutan
Mutiara Pagi: Sibuk Melabeli (Bagian 1850)
Premanisme Birokrasi: Ancaman yang Lebih Berbahaya
Ijazah Gratis, Pesantren Bangkrut
Melampaui Persaingan, Merajut Kemajuan Lewat Kolaborasi
Aktivis PMII Menolak Tegas Penulisan Ulang Sejarah Penjajahan Bangsa Indonesia
Teleperformance Dorong Inovasi Digital Lewat Peluncuran Persona AI dan Kantor Baru di Jakarta