Aktivis PMII Menolak Tegas Penulisan Ulang Sejarah Penjajahan Bangsa Indonesia

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 20:06 WIB
Zenal Mukhlis (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII)
Zenal Mukhlis (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII)

Oleh: Zenal Mukhlis (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII)

Merespons pernyataan Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan terkait wacana penulisan ulang sejarah penjajahan Indonesia oleh Belanda, kami, Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), menyatakan penolakan secara tegas.

Sebagai organisasi kemahasiswaan Islam yang berakar kuat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, PMII memiliki tujuan membentuk pribadi Muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia, cakap, serta bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya.

PMII juga berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi. Pancasila menjadi landasan filosofis dan ideologis dalam seluruh gerakan dan program perjuangan PMII untuk membangun bangsa.

Sebagai kaum terdidik yang peduli terhadap masa depan bangsa, kami menilai langkah Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang berusaha menulis ulang sejarah penjajahan Indonesia sangat tidak mencerminkan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan.

Dalam sejarah, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, secara konsisten menyampaikan bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Dalam pidato peringatan satu tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1946, Soekarno mengatakan:

"Selama 350 tahun kita mengalami hidup dalam penjajahan Belanda. Sekarang, dengan secara kilat pada 17 Agustus 1945, kita telah memproklamirkan kemerdekaan."

Tokoh bangsa seperti Mohammad Yamin juga menggunakan narasi "350 tahun dijajah" sebagai alat membangkitkan semangat nasionalisme dan anti-kolonialisme di tengah rakyat Indonesia.

Pernyataan Fadli Zon yang menyebut bahwa Belanda hanya menjajah Indonesia selama 37 tahun, dengan mengacu pada pendudukan Belanda di Klungkung, Bali pada 1908, sangat keliru.

Ia lebih menempatkan pendekatan kerajaan sebagai dasar pijakan, bukan pendekatan keindonesiaan. Padahal, dalam konteks kebangsaan, kita telah sepakat bahwa Indonesia adalah satu kesatuan utuh, bukan sekadar kumpulan kerajaan.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan persaudaraan mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya, menyebabkan demam dan tidak bisa tidur."

Artinya, jika satu daerah dijajah, maka seluruh bangsa Indonesia merasakan penderitaan tersebut. Maka dari itu, penjajahan di satu wilayah adalah penderitaan seluruh bangsa.

Solidaritas adalah nilai utama dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian, pernyataan Fadli Zon yang mengabaikan sejarah penjajahan selama 350 tahun, sesungguhnya mengingkari semangat solidaritas dan persatuan dalam Pancasila.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X