PMII menegaskan bahwa pernyataan tersebut sangat berbahaya karena dapat mengikis nilai-nilai nasionalisme dan keindonesiaan. Mengubah sejarah penjajahan adalah bentuk pengingkaran terhadap perjuangan para pahlawan dan amanat para pendiri bangsa. Ini bukan sekadar soal angka, tapi menyangkut identitas dan ideologi bangsa Indonesia.
Kami mempertanyakan nasionalisme Fadli Zon dan menuntut agar ia membatalkan wacana penulisan ulang sejarah penjajahan bangsa Indonesia. Langkah tersebut jelas menyalahi tugasnya sebagai Menteri Kebudayaan.
Sebagai aktivis mahasiswa dan bagian dari PMII, kami berkomitmen untuk terus mengawal isu ini hingga wacana penulisan ulang sejarah penjajahan Indonesia resmi dibatalkan.
Artikel Terkait
Menemukan Kedamaian dalam Kesederhanaan: Kunci Hidup Tenang
Madrasah Du'at Angkatan 3: PWNU Jabar Kembali Cetak Kader Da'i Militan
Hari Jumat dalam Sejarah Nabi Muhammad: Hari Istimewa Umat Islam
Rahasia Membuat Seblak Enak dan Lezat ala Rumahan
Menghijaukan Pekarangan Rumah: Langkah Mudah Ciptakan Lingkungan Asri
Menjelang Harkopnas dan HJC ke-378, Ketua Terpilih Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Kejutan
Mutiara Pagi: Sibuk Melabeli (Bagian 1850)
Premanisme Birokrasi: Ancaman yang Lebih Berbahaya
Ijazah Gratis, Pesantren Bangkrut
Melampaui Persaingan, Merajut Kemajuan Lewat Kolaborasi