Oleh: Agung Wibawanto
Tahun 2013 saya mulai mendampingi sebuah sekolah SD Muhammadiyah di pedesaan Sleman DIY. Karena mengenal kepala sekolahnya, saya diminta bantuannya melakukan perubahan lingkungan yang positif di sekolah tersebut. Bisa dikatakan di era sekarang semacam tim kreatif, meski tanpa bayaran.
Secara perlahan, saya dan guru-guru di sekolah tersebut terlibat dalam diskusi intens membahas cara mengajar kreatif dan inovatif. Tujuan utamanya agar siswa dapat tumbuh lebih ekspresif, kreatif dan mandiri. Tidak melulu mengukur dari hasil evaluasi belajar (meski dilihat juga efeknya).
Perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa sekolah tersebut karena berada di pedesaan, maka banyak siswa berlatar belakang dari keluarga tidak mampu. Hal ini berdampak kepada daya kritis serta kemampuan mereka menyerap materi pelajaran. Jika dibanding dengan anak-anak di perkotaan, mungkin mereka bisa lebih mudah menangkap dan lebih kritis.
Kelebihan dari karakter anak-anak desa, mereka lebih polos dan jujur. Sekolah sudah mencanangkan bagaimana agar proses belajar mengajar itu bisa berlangsung menyenangkan. Tidak hanya dalam proses belajar tapi juga lingkungannya yang lebih positif.
Tentu ini pekerjaan tidak mudah, meski bukannya tidak mungkin. Pertama yang harus dibangun adalah kepercayaan siswa bahwa sekolah dan belajar bukanlah sebuah tekanan, melainkan menggembirakan. Tentu suasana formil selama ini yang kaku dan baku serta berulang-ulang hingga membuat jenuh harus diubah.
Salah satunya (terkait dengan membaca), kami menilai bahwa calistung (baca, tulis dan hitung) sebagai metode belajar baku selama ini agak membosankan (bagi murid). Bagi guru juga tidak membuatnya berkembang kreatif mencari alternatif lain dalam menyampaikan materi pelajaran. Siswa duduk lama dalam ruang kelas dengan pemandangan yang itu-itu saja.
Lalu guru menyampaikan materi secara lisan untuk disalin siswa dalam buku. Atau juga menulis di papan tulis. Siswa juga diwajibkan memiliki buku pelajaran dan harus dibaca, kadang bergantian (disambung rekannya). Itu baru di sekolah, belum nanti di rumah ada pekerjaan rumah mengerjakan soal ataupun membaca.
Efeknya (hasil evaluasi), siswa bisa cepat menghafal tapi tidak memahami substansinya. Sekolah-sekolah kita (dulu) memang mengandalkan hafalan. Agar hafal memang harus dibaca berulang-ulang. Efek lainnya, siswa mulai jenuh dan stress. Sekolah dan belajar di rumah sama saja menjadi beban. Kalau tidak hafal takut dimarahi.
Namun kemudian kita juga mempelajari, bahwa ada banyak cara menyampaikan materi sebagai alternatif sehingga siswa tidak merasa bosan. Kurangi doktrin calistung. Caranya, bisa dengan bercerita, bisa menggunakan alat peraga, bisa dengan real life (kenyataan), bisa juga melalui video.
Lokasi pembelajaran tidak harus di dalam kelas tapi bisa di mana saja atau di luar kelas. Di rumah pun siswa diberi PR melakukan kegiatan riil seperti ikut ibu belanja ke pasar, membersihkan rumah, membantu bapak ke kebun sambil bermain dsb. Kesemuanya harus ada memuat materi pelajaran. Jadi, metode calistung dikurangi.
Kini, sekolah tersebut sudah berkembang pesat. Calon siswa yang mendaftar tidak lagi hanya berasal dari lingkungan sekitar tapi dari mana-mana. Ruang kelas bertambah dengan membangun sekolah hingga lantai 2. Sekolah semakin prestisius, masyarakat makin percaya anaknya bersekolah di sana, dan prestasi pasti mengikuti.
Itu di era belum berkembangnya media sosial seperti tiktok dan YouTube (meski sudah ada). Kini, 12 tahun berselang, beralasan dikarenakan tiktok dan YouTube, maka siswa diwajibkan kembali untuk membaca buku (sesuatu yang dulu agak dikurangi). Inilah dinamika perkembangan zaman. Dulu dianggap membuat siswa jenuh, kini diwajibkan.
Saya pernah bekerja di penerbitan dan percetakan, saya juga eks jurnalis, plus penulis dan membuat buku. Tentu saya tidak anti buku bahkan saya suka membaca. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa metode belajar anak tidak selalu sama dengan orang dewasa.
Artikel Terkait
Menemukan Kedamaian dalam Kesederhanaan: Kunci Hidup Tenang
Menjelang Harkopnas dan HJC ke-378, Ketua Terpilih Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Kejutan
Mutiara Pagi: Sibuk Melabeli (Bagian 1850)
Premanisme Birokrasi: Ancaman yang Lebih Berbahaya
Ijazah Gratis, Pesantren Bangkrut
Melampaui Persaingan, Merajut Kemajuan Lewat Kolaborasi
Aktivis PMII Menolak Tegas Penulisan Ulang Sejarah Penjajahan Bangsa Indonesia
Teleperformance Dorong Inovasi Digital Lewat Peluncuran Persona AI dan Kantor Baru di Jakarta
Mutiara Pagi: Eling lan Waspada (Bagian 1851)
Secondhand Smoke Bikin Galau