Sukri, preman Mangkutana membuat ciut nyali aparat di Palopo ketika kota itu bergolak di media 80-an.
Preman Sukri punya senjata rakitan yang bukan saja ditakuti lawannya, tetapi juga aparat.
Kombes Jusuf Manggarabani yang baru ditugaskan di Palopo kemudian mendatangi markas sang preman.
Mengetahui kedatangan sang komandan Brimob, ia keluar dari sarangnya. Ia meminta Jusuf balik kanan ke markas. Sukri mengokang senjata.
"Tembak lah aku jika berani," kata Jusuf, membusungkan dada. Jaraknya tak lebih 100 meter dari Sukri.
Tiga kali Sukri men-dor posisi Jusuf. Tiga kali pula peluru rontok. Peluru terakhir ia tembakkan dengan maju selangkah, namun Jusuf menggeser langkah juga ke belakang.
Ia melepaskan peluru pertaruhan terakhirnya dan peluru seperti enggan menyentuh tubuh gempal sang kombes.
Anak buahnya yang berlindung di balik semak, ternganga. "Ilmu kebal," kata salah satu dari mereka.
Setelah Sukri kehabisan peluru, Jusuf melangkah menghajarnya. Ia menembak Sukri untuk melumpuhkannya.
"Bawa ke rumah sakit," katanya setelah Sukri tumbang dengan sekali tembakan.
Ia mengajarkan kepada anak buahnya tentang keadilan yang tak harus balas dendam.
Cerita itu melegenda. Namun, Jusuf tak pernah jumawa. Ia mengungkapkan rahasia kenapa dirinya seakan tak tertembus peluru Sukri.
"Saya sudah pelajari senjatanya, jarak jangkauan pelurunya saya sudah ketahui sebelum menghadapinya," katanya, enteng.
Namun, ini persoalan keberanian. Tak mudah untuk melakukan itu meski dengan penghitungan taktik perang kuno seperti itu.
Artikel Terkait
Jangan Melawan Orang Cantik, Kita Akan Kalah
Jalan Ninja Kaesang yang Terancam Pengangguran, Menyedihkan
Insan min al-Bad’i ila al-Khalud: Telaah Filsafat Eksistensial dalam Pandangan Syaikh Jawadi Amuli
Mutiara Pagi: Bangkitlah (Bagian 1846)
Hari Kebangkitan Nasional: Ironi Bangsa yang Tak Pernah Bangkit
Kebangkitan Pendidikan Nasional: Refleksi di Tengah Labirin Kurikulum
Stasiun Radio Malabar: Megafon Kolonial yang Terbenam dalam Duka Nasional
Situs Cipari: Warisan Megalitik yang Terlupakan di Reruntuhan Ingatan Bangsa
Mutiara Pagi: Doa yang Tak Selesai (Bagian 1847)
Waspada Hujan Menengah hingga Sangat Tinggi di Jawa Barat