Semoga Tuhan tak bosan
Mendengar doa yang selalu sama
Tentang karunia dan keselamatan
Yang setiap saat selalu diminta
Meski doa seperti mendung
Penuh tapi tak turun
Seolah-olah masih menggantung
Masih menunggu yang menuntun
Percaya atau tidak
Semua tidak ada yang tertolak
Selama hati tak lalai
Setiap doa pasti ‘kan sampai
Hanya takdir yang tahu jalannya
Ke mana ia hendak berlabuh
Selalu hadir tanpa suara
Kepada hamba yang bersungguh-sungguh
Harapan yang belum terpenuhi
Bukan Tuhan tidak mau memberi
Mungkin ada desir di dalam dada
Menjadi penghalang doa yang ada
Harapan yang belum tercapai
Mungkin karena doa yang tak selesai
Sehingga tertahan di bibir semesta
Karena sejumlah keraguan yang ada
Malang, 21 Mei 2025
Salam Sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Jihad Intelektual (Bagian 1845)
Jangan Melawan Orang Cantik, Kita Akan Kalah
Kelas Desain Grafis PMII STAI Al-Azhary Cianjur Tajamkan Kreativitas
Jalan Ninja Kaesang yang Terancam Pengangguran, Menyedihkan
Insan min al-Bad’i ila al-Khalud: Telaah Filsafat Eksistensial dalam Pandangan Syaikh Jawadi Amuli
Mutiara Pagi: Bangkitlah (Bagian 1846)
Hari Kebangkitan Nasional: Ironi Bangsa yang Tak Pernah Bangkit
Kebangkitan Pendidikan Nasional: Refleksi di Tengah Labirin Kurikulum
Stasiun Radio Malabar: Megafon Kolonial yang Terbenam dalam Duka Nasional
Situs Cipari: Warisan Megalitik yang Terlupakan di Reruntuhan Ingatan Bangsa