Sebagai bentuk pelacuran intelektual yang menjual kehormatan akademik demi kepentingan politik sesaat. Tapi kini, bahkan istilah itu pun terasa tak cukup.
Sebab ini bukan lagi soal satu-dua orang yang menjual dirinya. Ini tentang sistem yang sudah lama bangkrut, tentang universitas yang bukan hanya melacurkan intelektualnya, tapi juga telah melacurkan dirinya sendiri.
Dan universitas itu tetap berdiri. Seperti sebuah rumah tua yang megah, tapi kosong. Di dalamnya, mereka yang pernah belajar berpikir kini hanya sibuk menghitung untung-rugi.
Mereka yang dulu bertanya, kini memilih diam. Sebab di negeri ini, gelar lebih dihargai daripada ilmu.
Dan harga sebuah gelar tak lagi ditentukan oleh kecerdasan atau kerja keras, tapi oleh seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan.
Artikel Terkait
Tidak Adakah Gajah di Jawa? Tinjauan Sejarah
Mereaktualisasi Tritangtu di Bumi: Menemukan Kembali Jati Diri Bangsa Sunda
Mutiara Pagi: Tadarus Kehidupan (Bagian 1785)
Mutiara Pagi: Untaian Doa di Bulan Suci (Bagian 1786)
Ramadan, Bulan Penuh Berkah
Tulang Rusuk yang Hilang
Tips Meraih Lailatul Qadar
Sahur
Penutupan Sanlat Ramadhan DPK BKPRMI Kecamatan Takokak
Mutiara Pagi: Vibrasi Ramadan (Bagian 1787)