Akademia Tunduk, Kebenaran Tergusur, Sistem Bangkrut
Catatan: Agus M Maksum
Dulu, di negeri ini, universitas adalah tempat orang belajar berpikir. Di sana, ilmu dihormati, bukan diperjualbelikan.
Dulu, orang yang datang ke sana datang dengan kepala tegak, membawa rasa ingin tahu dan keberanian mempertanyakan dunia. Tapi kini, segalanya berubah.
Di sebuah universitas tua yang dulu penuh wibawa, kini gelar akademik tak lagi dicapai dengan kerja keras, tak lagi ditempa dalam pengorbanan dan kesungguhan.
Ia hanya menjadi selembar kertas, bisa dibeli dengan koneksi, bisa dinegosiasikan dengan kuasa. Di ruang-ruang yang dulu dihormati sebagai tempat lahirnya pemikiran besar, kini hanya terdengar suara bisik-bisik transaksi: siapa yang harus lulus, siapa yang harus menutup mata.
Bahlil Lahadalia, seorang menteri, datang ke universitas itu bukan sebagai murid yang mencari ilmu, tapi sebagai pejabat yang mencari pengakuan. Ia tak perlu bertanya tentang kebenaran, tak perlu meneliti dengan tekun.
Sebab baginya, pengetahuan bukan sesuatu yang harus diraih, tetapi cukup disahkan dengan tanda tangan para profesor yang kini tak lebih dari birokrat berseragam toga.
Dan profesor-profesor itu pun diam, atau tersenyum samar. Mereka tahu apa yang terjadi, tapi tak ada yang cukup berani untuk menolak. Sebab universitas ini tak lagi dipimpin oleh ilmu, tapi oleh kuasa.
Para pengajarnya dulu adalah pejuang, kini mereka adalah pelayan. Mereka yang mengabdi bukan pada kebenaran, tapi pada mereka yang punya kuasa atas anggaran dan kebijakan.
Edward Said pernah menulis bahwa intelektual sejati harus berdiri melawan arus kekuasaan. Tapi di negeri ini, intelektual bukan lagi suara yang menentang, mereka hanya pelengkap dalam pesta kekuasaan.
Mereka tak lebih dari alat. Seperti yang dikatakan Michel Foucault, kebenaran bukan lagi sesuatu yang dicari, tapi sesuatu yang diproduksi demi kepentingan para penguasa.
Di antara semua ini, universitas tua itu tetap berdiri, kokoh di luar, tapi lapuk di dalam. Dulu ia adalah benteng bagi pemikiran kritis, kini ia hanya pasar tempat gelar diperjualbelikan. Dulu ia dihormati karena integritasnya, kini ia ditertawakan karena kebobrokannya.
Soe Hok Gie, jika masih hidup, mungkin akan menulis satu esai pedas tentangnya. Ia akan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap ilmu.
Artikel Terkait
Tidak Adakah Gajah di Jawa? Tinjauan Sejarah
Mereaktualisasi Tritangtu di Bumi: Menemukan Kembali Jati Diri Bangsa Sunda
Mutiara Pagi: Tadarus Kehidupan (Bagian 1785)
Mutiara Pagi: Untaian Doa di Bulan Suci (Bagian 1786)
Ramadan, Bulan Penuh Berkah
Tulang Rusuk yang Hilang
Tips Meraih Lailatul Qadar
Sahur
Penutupan Sanlat Ramadhan DPK BKPRMI Kecamatan Takokak
Mutiara Pagi: Vibrasi Ramadan (Bagian 1787)