Mereaktualisasi Tritangtu di Bumi: Menemukan Kembali Jati Diri Bangsa Sunda

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 20 Maret 2025 | 12:00 WIB
Inilah fakta dan tradisi unik suku Sunda yang menarik untuk diketahui (Tangkap Layar YouTube  HITZPEDIA)
Inilah fakta dan tradisi unik suku Sunda yang menarik untuk diketahui (Tangkap Layar YouTube HITZPEDIA)

Bangsa Sunda telah lama kehilangan arah, meninggalkan falsafah dan pegangan hidupnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, kita semakin menjauh dari akar, tercerai-berai tanpa benang merah yang menyatukan. Seperti daun-daun yang jatuh dari dahan, kita bergerak tanpa tujuan, saling merasa asing.

“Sukleuk leuweung, suklek lampih, jauh ka sintung kalapa… Lieuk deungeun, lieuk lain, jauh indung ka bapa.”

Ini adalah gambaran diri kita saat ini: kehilangan kebersamaan dan terlepas dari asal-usul. Namun, apakah ini berarti akhir dari segalanya? Tentu tidak. Masih ada celah, ada peluang.

Kita masih memiliki kesempatan untuk menata ulang kehidupan dengan prinsip Tritangtu di Bumi, sebuah konsep warisan leluhur yang bisa menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih selaras dengan alam dan jati diri bangsa.

Politik yang Tercerabut dari Akar Budaya

Saat ini, sistem politik kita bagaikan pakaian pinjaman—tak nyaman, tak pas, dan sering kali terasa menyesakkan. Demokrasi yang diterapkan justru menjauhkan rakyat dari makna sejatinya.

Politik partai telah menciptakan keterasingan, terutama bagi masyarakat desa yang tidak memahami afiliasi politik, namun tetap terjebak dalam mekanisme pemilihan yang manipulatif.

Kita perlu bertanya: Apakah kita telah salah memilih jalan? Apakah sistem yang diterapkan benar-benar sesuai dengan budaya dan karakter bangsa kita? Jika jawabannya ya, maka kembali ke konsep leluhur bukanlah sebuah kemunduran, melainkan langkah maju yang berlandaskan kearifan.

Seperti halnya Nabi Muhammad SAW yang mengembalikan masyarakat Arab Jahiliah kepada ajaran murni Nabi Ibrahim AS dan menciptakan masyarakat madani, kita pun bisa melakukan hal yang sama. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk menghidupkan kembali esensi kearifan leluhur dalam konteks zaman sekarang.

“Teundeun di hadeuleum siem, tunda di hanjuang siang; nu ditunda alaeun sampeureun jaga.”

Artinya, kearifan yang tersimpan suatu saat akan berguna kembali. Inilah siklus kehidupan: apa yang dahulu berada di belakang, kelak akan maju ke depan.

Tritangtu di Bumi: Demokrasi yang Berakar dalam Profesi

Jika kita memahami Tritangtu di Bumi sebagai prinsip pembagian peran dalam kehidupan sosial dan bernegara, maka dalam konteks modern, peran-peran ini bisa diterjemahkan dalam bentuk profesi.

Bayangkan jika sistem politik kita tidak didasarkan pada partai, tetapi berbasis asosiasi profesi, di mana para petani, nelayan, guru, dokter, insinyur, seniman, dan pekerja dari berbagai bidang memiliki perwakilan yang berbicara atas nama mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB
X